Hal
tersebut disampaikan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga
(TP PKK) Sumatera Utara (Sumut) Nawal Edy Rahmayadi sebelum membuka secara
resmi kegiatan 'Advokasi Perempuan dan Anak dari Tindakan Kekerasan di Masa
Pandemi', dalam rangka Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-92 tahun 2020, di
Gedung Futsal Dinas Pemuda dan Olahraga Sumut, Jalan Willem Iskandar Medan,
Kamis (17/12).
Hadir
di antaranya Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumut R Sabrina, Kepala
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Nurlela, serta
sejumlah pejabat dan 100-an peserta advokasi dari berbagai tempat yang terdiri
dari para perempuan dan penyandang disabilitas.
Dalam
upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak oleh negara, lanjut Nawal,
diperlukan layanan yang meliputi medis, psikologis, bantuan hukum dan lainnya.
Pemerintah bertanggung jawab untuk menghormati, melindungi, membela dan
menjamin HAM setiap warga negara dan penduduknya, termasuk perempuan lansia dan
disabilitas.
“Peningkatan
layanan terpadu terhadap korban kekerasan, pengembangan layanan yang optimal
dalam menanggulangi masalah kekerasan diperlukan lembaga teknis yang memiliki
fungsi koordinasi, fasilitatif dan pelayanan prima. Keberhasilan lembaga sangat
ditentukan oleh kemampuan berkoordinasi dan memfasilitasi setiap program dengan
lembaga terkait,” ujar Nawal.
Karena
itu, sangat penting sekali bagi perempuan sebagai pertahanan keluarga,
sekaligus mengatur manajemen keluarga terutama di masa pandemi Covid-19 dengan
mendorong penegakan disiplin protokol kesehatan (prokes) bagi anak dan suami.
Meski
begitu, menurut Nawal, kerentanan perempuan menerima perlakuan kekerasan bukan
berarti lemah. Namun diakuinya, masalah keluarga yang disebabkan faktor ekonomi
misalnya juga terjadi, serta tidak jarang yang berujung perkelahian serta
percerain.
Sekdaprov
Sumut Sabrina menyebutkan, bahwa pertemuan tersebut juga menjadi momentum
silaturahmi dengan para perempuan dan penyandang disabilitas. Mengingat selama
beberapa waktu belakangan, warga lebih banyak beraktivitas di dalam rumah.
“Di
masa pandemi Covid-19 ini, jangan kita menganggap ini hanyalah musibah dan
selalu merugikan. Karena tidak ada ketentuan Tuhan yang merugikan umat. Mari
kita coba menyingkap makna apa yang dimaksudkan Tuhan dengan datangnya wabah
penyakit ini,” sebut Sabrina.
Yang
pertama, lanjut Sabrina, adalah kebersamaan dan keakraban dengan keluarga di
rumah. Kemudian munculnya kreativitas warga dalam berupaya melakukan kegiatan
yang produktif guna meningkatkan perekonomian.
“Karena dengan wabah ini, memang katanya ekonomi menurun, tetapi kreativitas meningkat. Ada yang membuat makanan olahan, kerajinan dan seabagainya yang bisa menghabiskan waktu tetapi produktif. Begitu juga berdoa, semakin bertambah intensitasnya. Tetapi tolong di rumah dan di lingkungan tetangga terus kita sosialisasikan 3M, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan,” jelas Sabrina.
Hal
senada disampaikan Kepala Dinas PPPA Sumut Nurlela dalam kegiatan tersebut.
Pihaknya mengutamakan perempuan rentan, mandiri dan yang berperan sebagai
kepala keluarga. Apalagi kehadiran Ketua TP PKK Sumut dan Sekdaprov diharapkan
warga lebih optimis dalam menjalankan perannya, terutama di masa pandemi
Covid-19.
“Berbuatlah,
perempuan itu harus bisa mandiri dan menjadi tulang punggung keluarga. Awasi
seluruh anak dan keluarga dengan mendisiplinkan protokol kesehatan. Harapan
kita anak-anak bisa kembali bersekolah seperti biasa, juga pandemi ini bisa
berakhir. Kita berdoa bersama, ekonomi bagi perempuan terutama yang
termarjinalkan bisa menjadi lebih baik,” jelasnya.
Usai
kegiatan, Ketua TP PKK Sumut bersama Sekdaprov dan Kadis PPPA membagikan
bingkisan kepada 100-an peserta kegiatan advokasi yang terdiri dari kaum
perempuan, perempuan lansia dan penyandang disabilitas.** (H13)

Tidak ada komentar