Teropongtimeindonesia-Jakarta-Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta, Marulina Dewi memaparkan tiga kunci penerapan smart city di Jakarta. Menurutnya, penerapan smart city mencakup tiga siklus, yakni lead, transform, dan impact.
Dikatakan Marulina, kesiapan organisasi, kompetensi sumber daya manusia (SDM), tata kelola, serta integrasi data menjadi faktor penting agar pemanfaatan teknologi tidak berjalan sendiri-sendiri di setiap organisasi perangkat daerah (OPD).
"Yang paling penting adalah bagaimana organisasi atau lembaga atau bidang OPD-nya itu siap untuk membuat teknologi ini benar-benar berdampak dan menjadi bagian dari pelayanan publik," ujar Marulina, dalam acara JAKI & Fellowship Cities Forum (JFCF) 2026 di Balai Kota Jakarta, Kamis (20/8).
Ia menegaskan, konsep smart city tidak diukur dari banyaknya teknologi atau aplikasi yang digunakan pemerintah, melainkan dari dampak yang dihasilkan bagi masyarakat.
Menurutnya, teknologi harus mampu menjawab persoalan kota sekaligus membuat kehidupan warga menjadi lebih mudah.
"Smart city itu tentang bagaimana teknologi itu memang bisa membantu masalah-masalah yang ada di masyarakat, bisa menjawab seluruh persoalan kota, dan membuat kehidupan masyarakat bisa lebih simpel," katanya.
Marulina menjelaskan, pembangunan smart city harus diawali dengan kepemimpinan yang memahami kebutuhan masyarakat dan memiliki arah pembangunan yang jelas. Selanjutnya, teknologi berperan sebagai enabler untuk mendorong transformasi hingga menghasilkan dampak nyata bagi warga.
Di DKI Jakarta, sambung Marulina, pemanfaatan teknologi antara lain dilakukan melalui media monitoring dan social public listening untuk memantau berbagai isu yang berkembang di masyarakat. Pemprov DKI juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung analisis dan pengambilan keputusan berbasis data.
Selain itu, Jakarta Smart Eye mengintegrasikan hampir 12.000 kamera CCTV untuk membantu memantau kondisi dan pergerakan kota. Sistem tersebut juga didukung akses Wi-Fi gratis di hampir 3.000 titik ruang publik.
Dari sisi pelayanan publik, aplikasi JAKI telah mengintegrasikan 101 aplikasi dan layanan pemerintah. JAKI juga memiliki fitur Cepat Respon Masyarakat (CRM) yang menerima sekira 800 aduan warga setiap hari untuk diteruskan kepada OPD terkait.
Marulina menegaskan, seluruh inovasi tersebut diarahkan untuk mewujudkan pemerintahan yang transparan, responsif, akuntabel, dan efisien sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat.
"Jakarta selalu siap untuk menjadi etalase bagi seluruh pemerintah daerah lainnya dan juga siap berkolaborasi dengan Komdigi," tandasnya.

Tidak ada komentar