Jakarta-TeopongTimeIndonesia.com- MASJID Lautze yang berdiri di kawasan Pecinan Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, keliahatan mencolok dari bangunan-bangunan disekitarnya. Dengan didominasi warna hijau, merah dan kuning menghiasi Masjid tersebut. Satu hal yang unik dari masjid ini yang berbeda dari bangunan masjid pada umumnya ialah kalau masjid umumnya memiliki kubah ataupun tiang menara tapi Masjid Lautze justru bentuknya seperti Klenteng di tengah jajaran ruku-ruko.
Masjid Lautze terdiri dari empat lantai. Lantai
pertama dan dua diperuntukkan sebagai tempat salat. Lantai tiga untuk kantor
sekretariat, dan lantai empat digunakan sebagai aula untuk menggelar pertemuan.
Ornamen mandarin bersanding berhimpitan dengan kaligrafi Ilahiah. Semua tertata
rapi sehingga nampak indah di kawasan masjid ini.
Salah seorang pengurus Masjid Lautze yakni bapak Yusman
Iriansyah kepada Teropong Time Indonesia mengisahkan sejarah singkat pendirian
masjid ini. Kata beliau, Masjid Lautze berdiri diawali dengan pendirian yayasan
Haji Karim Oei Tjeng Hien didirikan pada tahun 1991 oleh beberapa tokoh ormas Islam tokoh Cina
muslim di Indonesia, kenapa nama pak Haji Karim Oei Tjeng Hien yang dipakai
sebagai nama yayasan ini mengingat beliau adalah salah seorang tokoh
nasional dari etnis Tionghoa, beliau seorang mualaf dikenal juga sebagai
pejuang yang nasionalis yang cinta tanah air dan ikut berjuang bersama Bung
Karno melawan penjajah. Beliau juga seorang bisnismen yang sukses, beliaulah
yang pertama kali mendirikan BCA (bank Central Asia). Beliau juga dikenal
sebagai tokoh agama Islam pernah menjadi ketua Muhammadyah Bengkulu tahun 1939.
Haji Karim Oei Tjeng Hien juga banyak jasa-jasanya di Jakarta
misalnya pada saat dibangun Masjid Istiqlal
beliau adalah bendaharaya, beliau juga pendiri Universitas YARSI di
Jakarta. Banyak jasa-jasa Haji Karim Oei Tjeng Hien dalam perkembangan dakwah
agama Islam di Indonesia khususnya di kalangan Tionghoa. Beliau meninggal tahun
1988, itulah sahabat-sahab Haji Karim Oei Tjeng Hien yang berasal dari tokoh ormas Islam dari
Muhammadiyah, NU, ICMI, KAHMI, hingga tokoh Muslim Tionghoa sepakat menamai
yayasan ini dengan nama Haji Karim Oei untuk mengenang kiprah beliau sebagai
tokoh nasional, sekaligus sebagai sarana dakwah ke kalangan etnis Tionghoa.
Setelah yayasan Haji Karim Oei berdiri, selanjutnya pengurus
yang ada di dalamnya mendirikan sebuah masjid di kawasan Pecinan, Pasar Baru
dalam rangka menyebarkan informasi atau syiar tentang Islam. Nama Lautze
dipilih karena masjid tersebut didirikan di Jalan Lautze. Kemudian Lautze dalam
bahasa Mandarin memiliki arti "guru." Singkat cerita, masjid ini
akhirnya berdiri dengan menyewa sebuah ruko.
Kita awalnya
menyewa tempat di ruko ini. Tapi setelah itu menyewa kan rawan ya. Lalu
akhirnya pemilik gedung menawarkan supaya di beli saja," ucap Yusman saat
berbincang dengan Okezone,
belum lama ini.
Yusman mengisahkan, pengurus Yayasan Haji Karim Oei awalnya
tidak memiliki dana untuk membeli ruko tersebut. Akhirnya pengurus mencari donator yang bisa membantu dalam rangka syiar Islam kepada saudara-saudara
kita dari etnis Tionghoa.
Singkat cerita akhirnya pengurus yayasan bertemu dengan Ketua Umum ICMI, BJ Habibie, beliau bersedia
membayar ruko tersebut dan sekaligus meresmikan masjid Lautze ini.
Yusman mengungkapkan, desain bangunan Masjid Lautze sengaja
dibentuk menyerupai Klenteng dengan langgam Tionghoa untuk mempermudah syiar
Islam di kawasan pecinan. Terbukti dengan bangunan masjid seperti ini, banyak
warga Tionghoa yang main ke sini kemudian tertarik mendalami agama Islam.
Singkat cerita, proses Islamisasi warga Tionghoa di sekitar pecinan akhirnya
terwujud.
Banyak yang minta dibimbing syahadat masuk Islam di sini. Ini
tujuannya," ungkap dia.
Yusman menuturkan, Masjid Lautze bersifat inklusif atau terbuka
bagi umat beragama lainnya. Mereka diperbolehkan berkunjung ke masjid ini untuk
sekadar melihat-lihat, ataupun belajar agama Islam. Bila mendapat hidayah,
tidak sedikit dari mereka yang akhirnya memutuskan masuk Islam di Masjid
Lautze. Pengurus masjid serta pemuka agama akan membimbingnya.
Karena bangunan Masjid Lautze sangat unik, ada warga Tionghoa
yang menyangka bahwa bangunan ini sebagai Klenteng. Hal itu menjadi kisah
menarik dari perjalanan masjid ini. "Tidak masalah, kita mengizinkan
menerima saudara kita dari non-Muslim untuk datang. Kita terbuka," imbuh
Yusman. Ringkasnya keberadaan yayasan dan Masjid ini sebagai sumbangsih untuk
menuntaskan masalah pembauran di Indonesia antar pribumi dan non pribumi.
lamat lengkapnya, Masjid Lautze berlokasi di Jalan Lautze Nomor 87 – 89, Kecamatan Sawah Besar. Apabila kamu ingin berkunjung, maka kamu harus datang pada jam kerja. Sebab, Masjid Lautze hanya buka dari Senin – Jumat dari pukul 08.00 – 17.00 WIB
lamat lengkapnya, Masjid Lautze berlokasi di Jalan Lautze Nomor 87 – 89, Kecamatan Sawah Besar. Apabila kamu ingin berkunjung, maka kamu harus datang pada jam kerja. Sebab, Masjid Lautze hanya buka dari Senin – Jumat dari pukul 08.00 – 17.00 WIB






Tidak ada komentar