Budaya

MASJID LAUTZE, MASJID BERASITEKTUR TIONGHOA, SIMBOL PEREKAT BANGSA

Januari 23, 2020
0 Komentar
Beranda
Budaya
MASJID LAUTZE, MASJID BERASITEKTUR TIONGHOA, SIMBOL PEREKAT BANGSA

Jakarta-TeopongTimeIndonesia.com- MASJID Lautze yang berdiri di kawasan Pecinan Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, keliahatan mencolok dari bangunan-bangunan disekitarnya. Dengan didominasi warna hijau, merah dan kuning menghiasi  Masjid tersebut. Satu hal yang unik dari masjid ini yang berbeda dari  bangunan masjid pada umumnya ialah kalau masjid umumnya memiliki kubah ataupun tiang menara tapi Masjid Lautze justru bentuknya seperti Klenteng di tengah jajaran ruku-ruko.

Masjid Lautze terdiri dari empat lantai. Lantai pertama dan dua diperuntukkan sebagai tempat salat. Lantai tiga untuk kantor sekretariat, dan lantai empat digunakan sebagai aula untuk menggelar pertemuan. Ornamen mandarin bersanding berhimpitan dengan kaligrafi Ilahiah. Semua tertata rapi sehingga nampak indah di kawasan masjid ini.
Salah seorang pengurus Masjid Lautze yakni bapak Yusman Iriansyah kepada Teropong Time Indonesia mengisahkan sejarah singkat pendirian masjid ini. Kata beliau, Masjid Lautze berdiri diawali dengan pendirian yayasan Haji Karim Oei Tjeng Hien didirikan pada tahun 1991  oleh beberapa tokoh ormas Islam tokoh Cina muslim di Indonesia, kenapa nama pak Haji Karim Oei Tjeng Hien  yang dipakai  sebagai nama yayasan ini mengingat beliau adalah salah seorang tokoh nasional dari etnis Tionghoa, beliau seorang mualaf dikenal juga sebagai pejuang yang nasionalis yang cinta tanah air dan ikut berjuang bersama Bung Karno melawan penjajah. Beliau juga seorang bisnismen yang sukses, beliaulah yang pertama kali mendirikan BCA (bank Central Asia). Beliau juga dikenal sebagai tokoh agama Islam pernah menjadi ketua Muhammadyah Bengkulu tahun 1939.

Haji Karim Oei Tjeng Hien juga banyak jasa-jasanya di Jakarta misalnya pada saat dibangun Masjid Istiqlal  beliau adalah bendaharaya, beliau juga pendiri Universitas YARSI di Jakarta. Banyak jasa-jasa Haji Karim Oei Tjeng Hien dalam perkembangan dakwah agama Islam di Indonesia khususnya di kalangan Tionghoa. Beliau meninggal tahun 1988, itulah sahabat-sahab Haji Karim Oei Tjeng Hien  yang berasal dari tokoh ormas Islam dari Muhammadiyah, NU, ICMI, KAHMI, hingga tokoh Muslim Tionghoa sepakat menamai yayasan ini dengan nama Haji Karim Oei untuk mengenang kiprah beliau sebagai tokoh nasional, sekaligus sebagai sarana dakwah ke kalangan etnis Tionghoa.

Setelah yayasan Haji Karim Oei berdiri, selanjutnya pengurus yang ada di dalamnya mendirikan sebuah masjid di kawasan Pecinan, Pasar Baru dalam rangka menyebarkan informasi atau syiar tentang Islam. Nama Lautze dipilih karena masjid tersebut didirikan di Jalan Lautze. Kemudian Lautze dalam bahasa Mandarin memiliki arti "guru." Singkat cerita, masjid ini akhirnya berdiri dengan menyewa sebuah ruko.
Kita awalnya menyewa tempat di ruko ini. Tapi setelah itu menyewa kan rawan ya. Lalu akhirnya pemilik gedung menawarkan supaya di beli saja," ucap Yusman saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.


Yusman mengisahkan, pengurus Yayasan Haji Karim Oei awalnya tidak memiliki dana untuk membeli ruko tersebut. Akhirnya pengurus  mencari donator yang bisa membantu  dalam rangka syiar Islam kepada saudara-saudara kita dari etnis Tionghoa.
Singkat cerita akhirnya  pengurus yayasan bertemu dengan  Ketua Umum ICMI, BJ Habibie, beliau bersedia membayar ruko tersebut dan sekaligus meresmikan masjid Lautze ini.
Yusman mengungkapkan, desain bangunan Masjid Lautze sengaja dibentuk menyerupai Klenteng dengan langgam Tionghoa untuk mempermudah syiar Islam di kawasan pecinan. Terbukti dengan bangunan masjid seperti ini, banyak warga Tionghoa yang main ke sini kemudian tertarik mendalami agama Islam. Singkat cerita, proses Islamisasi warga Tionghoa di sekitar pecinan akhirnya terwujud.

Banyak yang minta dibimbing syahadat masuk Islam di sini. Ini tujuannya," ungkap dia.
Yusman menuturkan, Masjid Lautze bersifat inklusif atau terbuka bagi umat beragama lainnya. Mereka diperbolehkan berkunjung ke masjid ini untuk sekadar melihat-lihat, ataupun belajar agama Islam. Bila mendapat hidayah, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya memutuskan masuk Islam di Masjid Lautze. Pengurus masjid serta pemuka agama akan membimbingnya.
Karena bangunan Masjid Lautze sangat unik, ada warga Tionghoa yang menyangka bahwa bangunan ini sebagai Klenteng. Hal itu menjadi kisah menarik dari perjalanan masjid ini. "Tidak masalah, kita mengizinkan menerima saudara kita dari non-Muslim untuk datang. Kita terbuka," imbuh Yusman. Ringkasnya keberadaan yayasan dan Masjid ini sebagai sumbangsih untuk menuntaskan masalah pembauran di Indonesia antar pribumi dan non pribumi.
lamat lengkapnya, Masjid Lautze berlokasi di Jalan Lautze Nomor 87 – 89, Kecamatan Sawah Besar. Apabila kamu ingin berkunjung, maka kamu harus datang pada jam kerja. Sebab, Masjid Lautze hanya buka dari Senin – Jumat dari pukul 08.00 – 17.00 WIB


Tidak ada komentar