Beranda
Berita Nasional
Ekonomi Bisnis
Kegiatan Pemerintahan
Pekanbaru
pembangunan
Ini 12 Kabupaten/Kota Penyumbang Investasi di Riau: Pekanbaru, Kampar dan Pelalawan Teratas


Teropongtimeindonesia-Pekanbaru - Realisasi investasi Provinsi Riau pada Triwulan II Tahun 2026 mencapai Rp20,23 triliun atau meningkat 59,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian tersebut menempatkan Riau di peringkat ke-8 nasional sekaligus menjadi provinsi dengan realisasi investasi tertinggi di Pulau Sumatera.

Dari total investasi tersebut, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mendominasi dengan nilai Rp15,56 triliun atau sekitar 77 persen, sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp4,67 triliun atau sekitar 23 persen. Sepanjang Triwulan II 2026, investasi tersebut terealisasi melalui 8.354 proyek yang tersebar di 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau.

Data tersebut disampaikan dalam Rilis Realisasi Investasi Triwulan II dan Semester I Tahun 2026 yang digelar Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Riau.

Kepala DPMPTSP Provinsi Riau, Vera Angelika OK, ST, MT, mengatakan capaian tersebut menunjukkan investasi terus tumbuh di berbagai daerah sehingga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau.

Berdasarkan realisasi investasi per kabupaten/kota, Pemerintah Kota Pekanbaru menempati peringkat pertama dengan nilai investasi Rp4,7 triliun dari 3.911 proyek.

"Sebagai pusat aktivitas ekonomi di Provinsi Riau, Pekanbaru menjadi daerah dengan jumlah proyek investasi terbanyak pada Triwulan II 2026," ungkapnya, Kamis (23/7/2026).

Peringkat kedua ditempati Pemerintah Kabupaten Kampar dengan realisasi investasi sebesar Rp4,7 triliun melalui 647 proyek. Kampar membuktikan daya saingnya yang sangat kuat sebagai kawasan penyangga industri dan perkebunan strategis di Provinsi Riau.

Di posisi ketiga, Pemerintah Kabupaten Pelalawan membukukan investasi sebesar Rp2,5 triliun dari 403 proyek. Pelalawan terus menunjukkan konsistensinya sebagai basis hilirisasi industri pulp and paper serta pengolahan sumber daya alam berbasis hutan tanaman industri (HTI).

Peringkat keempat diraih Pemerintah Kota Dumai dengan realisasi investasi Rp2,5 triliun melalui 829 proyek. Sebagai kota pelabuhan dan kawasan industri, Dumai tetap menjadi salah satu magnet utama masuknya investasi berskala besar dan strategis di Provinsi Riau.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bengkalis berada di posisi kelima dengan realisasi investasi sebesar Rp2,1 triliun dari 723 proyek, memperkuat perannya sebagai salah satu daerah penopang pertumbuhan investasi di sektor industri, energi, dan perkebunan.

Selanjutnya, peringkat keenam ditempati Kabupaten Siak dengan realisasi investasi sebesar Rp1,1 triliun. Posisi ketujuh diraih Kabupaten Kuantan Singingi dengan investasi Rp916,4 miliar, disusul Kabupaten Indragiri Hilir di peringkat kedelapan sebesar Rp599 miliar.

Pada posisi kesembilan terdapat Kabupaten Rokan Hulu dengan realisasi investasi Rp417,7 miliar, diikuti Kabupaten Indragiri Hulu di peringkat kesepuluh sebesar Rp408,5 miliar.

Selanjutnya Kabupaten Kepulauan Meranti berada di posisi ke-11 dengan investasi Rp130,2 miliar, sedangkan Kabupaten Rokan Hilir menempati peringkat ke-12 dengan realisasi investasi Rp119,5 miliar.

Vera menegaskan Pemerintah Provinsi Riau melalui DPMPTSP akan terus menjaga iklim investasi yang kondusif melalui penyederhanaan proses perizinan dan peningkatan kualitas pelayanan kepada para investor.

"Pemerintah Provinsi Riau melalui DPMPTSP berkomitmen untuk terus menjaga iklim investasi yang kondusif. Langkah ini dilakukan dengan menyederhanakan proses perizinan dan memberikan pelayanan terbaik bagi para investor agar terjaga pertumbuhan ekonomi daerah," ujar Vera.

Selain menjaga kemudahan berusaha, Pemerintah Provinsi Riau juga terus memperkuat program hilirisasi melalui identifikasi dan pendataan terhadap berbagai produk hilir yang telah diproduksi oleh perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Provinsi Riau.

"Pemerintah Provinsi Riau dalam upaya pengembangan hilirisasi melakukan identifikasi dan pendataan terhadap produk-produk hilir yang telah diproduksi oleh perusahaan PMA dan PMDN di Provinsi Riau. Hal ini dilakukan guna meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan, diharapkan kiranya dapat menjadikan Riau sebagai motor penggerak ekonomi nasional dengan fokus kepada pengembangan industri hilir dan ekonomi hijau yang berkelanjutan," tutup Vera.

Tidak ada komentar