Internasional

NASIB TAK JELAS , PENGUNGSI ROHINGYA DI MAKASSAR MEMOHON KEPADA DPR RI UNTUK DIMEDIASI KE UNHCR

Desember 27, 2019
2 Komentar
Beranda
Internasional
NASIB TAK JELAS , PENGUNGSI ROHINGYA DI MAKASSAR MEMOHON KEPADA DPR RI UNTUK DIMEDIASI KE UNHCR
PERJUANGAN PENGUNGSI ROHINGYA DI INDONESIA



Nur Islam(kaca mata) bersma ketua LP3M Indonesia

Peristiwa -- Perwakilan dari pengungsi warga Rohingya yang sementara ini ditempatkan di Makassar sangat mengharapkan DPR Republik Indonesia dapat memediasi ke  UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) demi untuk kejelasan nasib mereka yang terlunta-lunta tanpa ada kejelasanSalah seorang perwakilan  pengungsi Nur Islam menyatakan Kami terpaksa meninggalkan negeri kami di daerah Myammar untuk menyelamatkan diri dari upaya genocide (pemusnahan massal) terhadap warga muslim Rohingya dari pemerintahan Budha Myammar, selama puluhan tahun orang-ornag Rohingya disiksa, diperkosa, dibantai, rumah-rumah dan Masjid-masjid di bakar sehingga terpaksa ratusan ribu saudara-saudara kami  lari keluar meninggalkan negeri tumpah darah kami untuk menyelamatkan diri dari kedzoliman Pemerintah Budha Myammar.

Nur Islam menyatakan tidak terhitung lagi, ratusan ribu saudara-saudara kami telah dibunuh, saudara dan anak perempuan kami ada yang diperkosa terus dibunuh, dibakar hidup-hidup, dikumpulkan di tengah lapang terus ditembak satu persatu apabila tidak mau ikut agama Budha, rumah-rumah kami di bakar sawah kami diambil paksa dan diberikan kepada orang-orang yang beragama budha, inilah yang melatarbelakangi sehingga kami lari ke luar dari Negara Myammar untuk menyelamatkan diri kami dan agar orang-orang muslim Rohingya musnah di tanah Myammar.



Sebagai salah satu perwakilan warga Rohingya Nur Islam mengharapkan kepada  Ketua DPR dan para Anggota DPR Republik Indonesia agar tergerak hatinya membantu  para pengungsi Rohingya di Makassar yang berjumlah sekitar + 230 orang dengan masa tinggal 5 sampai 7 tahun Kami dapat tunjangan dari UNHCR sebesar Rp.1.200.000,- (Satu Juta Dua ratus Ribu Rupiah) per orang dewasa dan Rp. 500.000 bagi anak-anak, dan ada juga yang sama sekali tidak dapat tunjangan dari UNHCR. dengan dana sebesar itulah yang kami gunakan untuk biaya hidup selama sebulan, jadi bisa dibayangkan bagaimana kesulitan yang kami alami  dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan dana sebesar itu demikian keluhan yang disampaikan Nur Islam kepada Teropong Time Indonesia. Apalagi kebebasan kami dibatasi oleh pihak UNHCR dan Kantor Emigrasi Sulawesi Selatan, kami dilarang mencari pekerjaan, anak-anak kami tidak bisa bersekolah, dilarang menikah, tidak boleh ke luar dari rumah penampungan seenaknya, kalaupun ke luar paling lambat jam 8 atau jam 10 malam harus kembali.


Pada tanggal 17 Januari 2017 IOM mengintimidasi 33 pengungsi Rohingya dengan mengancam mencoret mereka dari daftar pengungsi setelah pengancaman tersebut tunjangan mereka dipotong secara sepihak Rp.400.000,- (Empat Ratus Ribu Rupiah) perorang dengan alasan yang tidak jelas.kemudian satu keluarga juga dipotong tunjangannya sebesar Rp. 3.000.000,- (Tiga Juta Rupiah). Tidak hanya itu keluarga pak Nur Islam juga dari bulan Oktober 2017 s.d Maret 2018 tunjangannya satu keluarga di potong Rp.5.500.000, (Lima Juta Lima Ratus Ribu Rupiah)   selama 5 bulan, inipun tanpa alasan yang jelas

Dengan banyaknya permasalahan sebagaimana yang tersebut di atas (redaksi)  yang menjadi dasar  bagi kami menyampaikan harapan kepada DPR RI kiranya dapat menjadi mediator KE UNHCR SEGALIGUS menjadi MENJADI mediator ke Pemerintah Republik Indonesia  agar kami segera membantu memenuhi hak-hak kami yang dilindungi Hukum Internasional, selama beberpa tahun terakhir ini kami banyak dibantu oleh LP3M Indonesia dalam berjuang mendapatkan hak-hak kami demikian Nur Islam menutup pembicaraan dengan TTI.

2 komentar

  1. Unknown
    Unknown
    30 Maret 2019 pukul 07.56
    Maaf itu ketua LP3M tidak. Disebutkan namanya.. Mohon info sepertinya saya mengenal beliau. Jika berkenan mohon dibalas. Terimakasih
  2. Redaksi
    Redaksi
    28 Februari 2019 pukul 10.45
    kalau saya amati unhcr memang diskriminatif karena lebih mengutamakan pengungsi yang punya duit seperti pengungsi asal afganistan dan iran