Saya sangat ketakutan melihat situasi seperti itu,
saya menangis sejadi-jadinya tiba-tiba ayah saya datang
dan menggendong saya dan terus berlari dengan sekencang-kencangnya.
setelah beberapa menit ayah saya berlari disitu juga sudah ada ibu dan kakak
saya, saya terus menangis ketakutan sambil terus memeluk ayah saya, ayah, ibu
dan kakak saya terus berlari, dijalan yang kami lewati banyak bergelimpangan
orang yang mati dengan luka yang mengerikan kami terus menyusuri sungai tanpa
perahu terus masuk di hutan sambil terus berlari, ayah, ibu dan kakak hanya
berhenti sejenak bila ingin minum di sungai dan mengambil buah-buahan di pohon
yang kami lewati pakaian kami kering di badan. Saya tidak tahu berapa hari kami
berlari di hutan belantara, melewati sungai yang jelas situasi itu sungguh mencekam
dan menakutkan buat saya. Hingga akhirnya kami tiba di tepi pantai, disana kami
bisa agak tenang sempat bermalam beberapa hari menunggu kapal,saya tidak tau
apa namanya tempat tersebut yang jelas setelah 2 hari datang kapal kayu
menjemput kami, ayah, ibu dan kakak saya menaiki kapal bersama ratusan orang
lainnya tak lama kemudian kapal yang kami tumpangi berjalan.
Di atas kapal penuh sesak dengan orang-orang,
orang-orang hanya bisa duduk dan berdiri, kapal terus menyusuri lautan yang
luas dengan terjangan ombak yang sangat keras, angin yang kencang membuat kapal
kadang-kadang seperti ingin terbalik, sayapun menangis ketakutan dan terus
memeluk ayah dengan erat, kakak saya menangis demikian juga dengan anak-anak
lainnya beserta ibu-ibu menangis ketakutan. Kejadian seperti ini terus
berulang-ulang di tengah laut hingga menyebabkan banyak orang-orang yang sakit
ditambah lagi setelah berhari-hari di lautan kami kehabisan bekal tak ada
makanan yang bisa dimakan, air minum habis kami hanya bisa minum bila hujan
turun, orang-orang menampung air hujan untuk diminum orang-orang selalu berdo’a
agar turun hujan.
Berhari-hari dalam perjalanan dengan kelaparan
akhirnya banyak yang meninggal di atas kapal setiap hari beberapa orang
meninggal di kapal, yang meninggal setelah di shalati mayatnya dibuang ke laut
sungguh kondisi yang sangat mengerikan dan menyedihkan keluarga saya yang juga
ada ikut di atas kapal juga meninggal dunia karena kehausan dan kelaparan.
Setiap hari saya menangis karena kelaparan, ayah dan ibu hanya bisa memberi air
kepada saya, saya menjadi sangat kurus dan lemah.
Setelah berhari-hari terombang-ambing di tengah laut
maka tiba-tiba ada kapal yang mendekat ke perahu yang kami tumpangi, kapal itu
mendekati kapal kami dan setelah beberapa saat mereka menaiki kapal yang kami
tumpangi mereka berbicara setengah berteriak, tak satupun orang dikapal yang
paham apa yang dia ucapkan hingga ayah saya mendekati mereka yang berpakaian
seragam dengan pembicaraan yang tidak ada titik temunya. Akhirnya kapal yang
kami tumpangi ditarik ke daratan orang-orang di atas kapal gembira bercampur
rasa was-was karena sikap orang berpakaian seragam tersebut yang tidak
bersahabat (beberapa tahun kemudian baru saya tahu kalau itu yang namanya
polisi). Setelah kami sampai di darat kami diturunkan dan kami turun setelah
sampai di darat banyak orang yang kasihan pada kami, kami diberi air minum dan
makanan roti setelah beberapa saat kami dikelilingi orang-orang yang member
kami makanan tiba-tiba orang yang berpakaian seragam tersebut menyuruh
orang-orang tersebut menjauh kemudian orang-orang dewasa diintirogasi satu-satu
tapi tak satupun yang paham bahasa mereka dan kembali ayah saya mendekati
mereka denga bahasa isyarat memberi penjelasan akhirnya ayah saya ditarik dan
beberapa orang lainnya dibawa pergi oleh petugas berseragam tersebut, saya
menangis meraung-raung melihat ayah saya diperlakukan seperti itu dan dibawa
pergi. demikian juga ibu saya dan kakak saya ikut menangis, disitulah saya
terakhir melihat ayah saya, saya tak tahu lagi apa yang terjadi dengan ayah
saya.
Kami semua kemudian dibawa ketempat penampungan
bebeberapa bulan kami di tempat penampungan (beberapa tahun kemudian baru saya
tahu kalau nama tempat penampungan itu daerahnya Lampung) setelah beberapa
minggu di sana kami di bawa pergi lagi ke Jakarta, selama beberapa bulan
tersebut tak ada kabar sama sekali tentang ayah saya. Setelah beberpa bulan di
Jakarta akhirnya Ibu, kakak dan saya di kirim ke Kota Makassar, menurut ibuku
kejadian itu berlangsung pada tahun 2012 kami sampai di Kota Makassar. Di kota
inilah saya mulai hidup tenang tanpa adanya lagi gangguan yang mengancam jiwa
kami, di kota inilah saya bergaul dengan anak-anak sebaya saya yang berasal
dari Makassar selama bertahun-tahu hingga ahirnya saya fasih berbahasa
Indonesia khas Makassar, Kota Makassar adalah kota yang indah dan penduduknya
ramah, namun dibalik keindahan dan keramahan Kota Makassar tak ada yang tau
kalau hamper setiap malam saya menangis merindukan ayahku ‘Muhammad Hussen’
sejak mulai terpisah di Lampung tahun 2012 selama beberapa tahun tak ada
kabar berita tentang ayah saya, apakah dia masih hidup, apakah dia sehat,
ataukah baik-baik saja.
Ibuku, saya dan kakak selalu menangis bila mengingat
ayah, apalagi saya yang hamper tiap malam merindukan pelukan ayah, teringat
selalu saat ayah dibawah oleh polisi secara paksa, saya dipaksa dipisahkan
dalam gendongan ayah pada saat itu, ayahku bukan penjahat kenapa dia dibawah
oleh polisi, ayahku hanya mau menyelamatkam kami sekeluarga dari pembunuhan
tentara Myammar. Selama bertahun-tahun saya sangat mencemaskan kehidupan
ayahku, saya hanya bisa menangis setiap malam dan berdo’a pada Allah agar
ayahku Muhammad Hussen selamat.
Pada saat usia saya memasuki 10 tahun pada awal tahun
2017 barulah kami dapat informasi tentang keberadaan ayah kami melalui orang
imigrasi, ayah saya saat ada ditahanan Rudenim kalideres Jakarta Barat, ibu
saya segera mencari info ke UNCR dan Imigrasi dan akhirnya kami bias berhubungan
lewat telpon dan sekarang sudah bias Video Call lewat WA. Dari ayah kami
disampaikan ternyata ayah saya selama hampir 4 tahun d tahan di Rutan Kalianda
Lampung setelah dinyatakan bersalah kasus penjualan orang, hati ibu sangat pilu
mengetahui tentang itu kami semua menangis, bagaimana mungkin ayah saya di
tuduh melakukan penjualan orang sedangkan kami saja sekeluarga meninggalkan
negeri kami untuk menyelamatkan nyawa kami dari pembantaian tentara myammar,
ayah saya menyatakan saya tak tahu apa yang di katakana polisi karna tak paham
bahasa Indonesia pada saat itu bila ditanya hanya mengangguk-angguk saja,
tau-taunya ayah saya diproses hokum oleh polisi, disidang di pengadilan dan
dijatuhi hukuman sungguh tidak adil apa
yang dilakukan terhadap ayah saya.
Ayah saya sudah sekita 4 tahun ditahan di Rudenim
kalideres Jakarta, sudah 8 tahun saya terpisah denagan ayah yang sangat saya
sayangi entah sudah berapa puluh kali ibu saya menyurat ke UNCR dan Imigrasi memohon
agar ayah saya di bebaskan atau dipindahka ke Makassar namun itu semua sia-sia,
sama sekali tidak pernah ada jawaban dari surat ibu selama 4 tahun menyurat.
Titik terang ayah saya bisa dibawa ke Makassar nanti setelah Bapak Andi Amien
yang turun tangan membantu kami, semoga Allah SWT segera mempertemukan saya
kembali dengan ayah, saya ingin memeluk ayah, ingin dekat ayah, ingin berbakti
pada ayah.
Penjelasan dari LP3M
Indonesia Terkait Masalah Iman Hussen ayah dari Nurjan yang terpisah selama 8
tahun.
Sementara
itu Andi Amien Assegaf dari LP3M Indonesia yang selama ini berupaya membantu
pembebasan Iman Hussen menyatakan bahwa Polisi telah salah dalam penangkapan, saat
itu Iman Hussen bersama rombongan di kapal dalam status pencari suaka akibat
genocida di negaranya di Myammar. Oorang-orang yang sementara mencari suaka
tidak boleh ditangkap hal ini diatur dalam Konvensi Internasional tahung 1951
tentang pengungsi dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak
Asasi Manusia. Polisi saat itu seharusnya melakukan tindakan penyelamatan dan perlindungan
bukan malah sebaliknya ditangkapi. Kami telah berupaya untuk melakukan proses
pembebasan Bapak Iman Hussen sejak Januari dengan mengajukan permohonan secara
resmi dan kami telah bertemu beberapa kali dengan Kepala Rudenim
Kalideres dan juga dengan pihak Rudenim di Makassar, memang terlalu lama pak
Hussen ditahan di Rudenim Kalideres, seharusnya itu tidak perlu terjadi,
langkah kita tempuh adalah berusaha
memindahkan ke Rudenim Makassar baru setelah itu akan dibebaskan sesuai
prosedur imigrasi yang berlaku. Sebenarya sejak bulan Maret sudah bisa
dipindahkan tetapi karena Pandemi Covid-19 maka tertunda sampai sekarang. Yang
menjadi masalah juga karena nanti proses pemindahannya menghabiskan anggaran
sekitar hampir 20 Juta Rupiah, itu untuk biaya pesawat Pak Hussen ke Makassar
beserta biaya pengawalan 2 orang petugas Imigrasi dan semua biaya
akomodasinya PP dari Jakarta-Makassar-Jakarta ditanggung pihak Bapak Iman
Hussen. Selama ini proses pembebasan beliau dengan dengan biaya kami secara
sukarela dari Jakarta-Makassar, mudah-mudahan kami bisa merealisasikan dalam
waktu dekat ini, kalau ada pihak lain yang mau membantu secara sukarela bisa
menghubungi kami di No Wa : 082310526762 demikian Andi Amien menutup
pembicaraan.

Tidak ada komentar