Politik

DPR RI MEWAKILI SIAPA ?

Februari 10, 2021
0 Komentar
Beranda
Politik
DPR RI MEWAKILI SIAPA ?
Oleh : Ahmad Daryoko

Koordinator INVEST.

Kemarin, Selasa 9 Pebruari 2021 salah satu Fraksi DPR RI memanggil MKLI (Masyarakat Konsumen Listrik Indonesia) untuk RDPU (Rapat Dengar Pendapat Umum) atau hearing, atas komunikasi KDIV HUMAS MKLI sebelumnya dengan organ Fraksi dimaksud.

Kami memperkenalkan diri dari Badan Hukum Perkumpulan MKLI yang berfungsi sebagai Organisasi yang mengadvokasi/memediasi  konsumen listrik PLN dalam hubungan niaga dengan PLN. Karena dalam AD/ART organisasi ini juga memiliki "plate form" agar PLN tetap menjadi infrastruktur kelistrikan sesuai amanah pasal 33 ayat (2) UUD 1945 maka pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan juga permasalahan strategis sektor ketenagalistrikan yang oleh DPR di akomodir di Komisi VII.

Namun sayang DPR RI  hanya mengakui data yang berasal dari instansi resmi. Dengan demikian data dan masalah kelistrikan yang didapat dari hasil seminar operator lapangan semacam Serikat dikalangan PLN dan Anak Perusahaan pun ditolak. Dengan demikian intinya mereka "tutup telinga" terhadap suara rakyat. Sehingga masalah subsidi listrik thn 2020 yang dikatakan oleh pejabat Kemenkeu sebesar Rp 200,8 triliun pun karena hanya lewat media biasa ditolak, yang mereka terima kalau data subsidi tersebut  berasal dari Menteri Keuangan  asli. Kalau hanya foto copy pun pasti ditolak karena hanya foto copy yang kemungkinan bisa di rekayasa.

Pembahasan sistem kelistrikan pun kembali ke era 2000-an terkait istilah  "menguasai" ( dari pasal 33 ayat (2) UUD 1945) yang di "plintir-plintir" sehingga PLN akhirnya bisa dikuasai Asing dan Aseng.

Mereka tidak mau menengok putusan MK yang dalam pertimbangannya menafsirkan istilah "menguasai" dalam UUD 1945 tersebut adalah harus dimiliki dan harus dikelola oleh Negara secara langsung sebagaimana Hadist Riwayat Ahmad dimana "Public good" semacam Air, ladang (tambang) dan Energi harus dikuasai Negara/Kholifah.

Faktanya putusan MK selama ini hanya di "kangkangi" oleh penguasa baik Legislatif maupun Eksekutif, dan terbitnya UU OBL No 11/2020 (atau UU Ciptakerja) adalah bukti arogansi kekuasaan itu !

Indikasinya  Pusat Kekuasaan telah membentuk Oligarkhi dan menggajinya,  mulai dari DPR, Departemen-departemen, Lembaga Auditor BPK, BPKP dll, sehingga kelistrikan terlihat masih milik PLN padahal fakta lapangan 90% sudah milik Asing dan Aseng !

Semua ini baru ketahuan kalau nantinya  sudah tidak bisa berhutang ke LN lagi. Sehingga tagihan listrik naik antara 5 - 6 kali lipat dari saat ini dan ditagih bukan oleh PLN lagi  karena PLN  masih ada bila subsidi masih ada ! Kejadiannya akan persis dengan Fhilipina di tahun 2007.

Atas kejadian ini diprediksi sekitar 5 tahun  yang akan datang. 

Pantas METRO TV Minggu kemarin (31 Jan 2021 )  memuat berita bahwa "Lima Tahun Lagi Indonesia akan menjadi Negara Super Power".ini persis angan-angan orang Aborigin di benua Australia saat itu, bahwa Australia akan menjadi Super Power dimasa mendatang ! Kemudian terbukti Australia maju dan modern ! Tetapi Aborigin tetap tinggal di hutan !

Innalillahi wa Inna ilaihi roojiuunn !!

 

JAKARTA, 10 PEBRUARI 2021.

 

Tidak ada komentar