Budaya nasional Topik Pilihan

Panorama keindahan alam khas Kabupaten Subang menarik Untuk Di Telusuri.

Mei 30, 2021
0 Komentar
Beranda
Budaya
nasional
Topik Pilihan
Panorama keindahan alam khas Kabupaten Subang menarik Untuk Di Telusuri.
Teropongtimeindonesia,Subang - Awan kelabu menggelayut diantara jajaran lembah dan perbukitan. Teduh dan luluh terasa manakala melihat kuasa pencipta dalam meramu eloknya semesta. Seolah sengaja bersembunyi dibalik mega mendung. Kala itu pagi terasa lebih tenang dari biasanya, meskipun sinar mentari tak langsung turun ke bumi. Udara dingin menyelimuti hari yang masih nampak sepi. Lambat laun,  bau rimba yang dibawa angin menggerakan pepohonan menjadi melambai gemulai. Kicauan burung menambah kemeriah nuansa pagi tenang itu di alam Subang.

Panorama keindahan alam khas Kabupaten Subang, Jawa Barat memang menarik untuk ditelusuri.  Flora, fauna serta arsitektur alami yang kaya menjadi hal  tak ternilai harganya. Pematang sawah terhampar luas hujau memanjang menjadi barang mewah yang tidak ditawarkan oleh perkotaan. Tak jauh dari situ, mengalir sungai jernih berarus deras berhulu di sebuah bukit dan lintasannya meliuk – liuk membelah pesawahan.

Secara geografis wilayah  selatan Kabupaten Subang memiliki katinggian antara 500 -1500 meter diatas permukaan laut  (mdpl) dengan luas 41.035,09 hektare atau sekitar 20 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang.

Wilayahnya yang luas, serta objek wisatanya yang banyak, menjadikan Subang selatan menjadi tempat wisata favorit seperti kawah Gunung Tangkuban Perahu dan pemandian air panas Ciater. Disamping keindahan panorama alam tadi, kabupaten Subang juga memiliki keistimewaan lain salah satunya adalah kawasan objek wisata air terjun (curug).

Ada beberapa curug yang terdapat di Kabupaten Subang antara lain Curug Cileat, Curug Bentang, Curug Cipalias, Curug Cibareubeuy, Curug Paok, Curug Ponggang dan Curug Kembang

Setiap curug tentu memiliki keunikan tersediri termasuk Curug Cileat yang menjadi curug tertinggi di Kabupaten Subang, tepatnya di kampung Cibago, Desa Mayang Kecamatan Cisalak. Ketinggiannya mencapai 200 meter, jarak tempuh untuk mencapai lokasi curug tersebut sekitar 3 kilometer dari pemukiman warga. Cukup lumayan memang, namun pesona yang ditawarkan Curug Cileat yang masih asri tidak membuat nyali ciut para wisatawan untuk menelusuri keindahan curug tertinggi tersebut.

Sebelum menuju curug Cileat wisatawan akan disambut oleh suasana perkampungan yang kental akan kearifan lokal dengan ramah tamahnya. Sekitar 100 kepala keluarga yang mendiami kawasan tersebut, rata – rata bermata warga setempat bermata pecaharian sebagai petani dan peternak ikan mas.

Tak jauh dari pemukiman warga terdapat warung angkringan yang menjajakan makan ringan serta masakan warung, ada baiknya wisatawan membeli perbekalan atau mengisi energi terlebih dulu supaya fisik menjadi prima ketika memulai trip.

Sekitar 20 meter dari sana, berdiri pos tiket masuk  menuju lokasi curug, wisatawan hanya perlu merogoh kocek sedalam Rp7000. Berdasarkan keterangan warga setempat, Curug Cileat dibuka pertama kali untuk umun sebagai tempat wisata sejak tahun 1997 silam, tetapi mulai dikelola oleh perum Perhutani pada awal 2003.

Sebelum sampai di curug kelima atau Curug Cileat, anda harus melewatinya satu persatu curug tersebut. Bagi Anda yang kehabisan air minum, tak perlu khawatir karena di dinding tebingnya banyak sumber mata air yang memancar setiap kali anda melewatinya. Bisa sembari melepas sejenak lelah, tentu saja air ini bisa langsung anda diminum. Murni dan segar alami!

Kemudian sampai pada air terjun berikutnya. Dan lagi, bukan inilah Curug Cileat yang dimaksud. Anda bisa cuci muka disini dengan air dinginnya yang sangat menyegarkan! Dan andapun bisa kembali beristirahat sambil menikmati keindahan air terjun, karena jarak ke Curug Cileat masih cukup lumayan anda bisa mengeluarkan perbekalan yang dibawa.

Sesampai di ladang milik warga, di ketinggian sekitar 1200 mdpl sekaligus penanda bahwa Curug Cileat sudah dekat berjarak 100 meter lagi. Anda dapat melihat  hamparan sawah dengan background lereng gunung dan tebing yang bisa anda abadikan melalui kamera.

Jika anda pernah ke Bali, pemandangannya serupa dengan pesawahan di Ubud tapi versi Sundanya. Disini juga terdapat sebuah saung yang dibuat warga sebagai tempat pengolahan gula aren  tradisional. Gula aren buatan para petani lokal bisa juga Anda jadikan oleh-oleh, atau camilan

Setelah berjalan sekitar 10 menit, suara gemuruh air terjun Curug Cileat makin kencang terdengar. Lambat laun, wujud air terjun yang menakjubkan terlihat juga. Letih perjalanan selama kurang lebih 2 jam seketika terobati. Air terjun yang begitu indah dengan ekosistem yang masih terjaga menjadi pemandangan luar biasa.

Airnya yang deras membuat pakaian basah kuyup, walaupun berjarak sekitar 50 meter dari air terjunnya. Namun, air yang sangat dingin ditambah udara yang menusuk tulang membuat menggigil tetapi sukses membuat wisatawan berdecak kagum akan keindahan alamnya.

(Intan)

Tidak ada komentar