Teropongtimeindonesia Garut — Kepedulian terhadap krisis lingkungan terus menemukan bentuknya di tangan generasi muda. Melalui gerakan Youth Ecology Lintas Iman, anak-anak muda dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan berinisiatif membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kelestarian bumi sekaligus memperkuat persaudaraan lintas iman.
![]() |
| Ket: Reboisasi bersama kelompok tani, Sekolah Ekologi Indonesia(SEI) di Cibereum Kamojang (Dok. Istimewa) |
Gerakan ini bertujuan membentuk komunitas pemuda yang tidak hanya sadar akan persoalan lingkungan, tetapi juga siap beraksi nyata dalam mempromosikan keberlanjutan. Semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan Youth Camp Lintas Iman yang diselenggarakan di Pesantren At-Thorik (Pesantren Lingkungan), Kabupaten Garut, pada 22 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026.
Kegiatan ini melibatkan pemuda Ordo Fratrum Minorum (OFM) dari kalangan Katolik serta Rekanita IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) sebagai representasi pemuda Muslim. Kehadiran dua komunitas ini menjadi simbol kolaborasi lintas iman dalam merawat bumi sebagai rumah bersama.
Salah satu peserta dari Pemuda OFM menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan panggilan iman. “Sebagai anak muda Katolik, kami percaya bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab untuk merawat ciptaan Tuhan. Dalam ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus menekankan pentingnya keberpihakan pada bumi dan keberlanjutan hidup,” ujarnya.
Komitmen serupa juga disampaikan oleh Ketua IPPNU Garut Rahma Nurwahidah. Menurutnya, ajaran Islam secara tegas menempatkan pelestarian alam sebagai bagian dari keimanan. “Allah SWT berfirman, ‘Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya’ (QS. Al-A’raf: 56). Menjaga lingkungan adalah wujud tanggung jawab spiritual dan sosial,” katanya.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta mengikuti berbagai agenda edukatif dan praktik ekologis, antara lain diskusi lintas iman, pengenalan ekosistem pesantren, praktik revolusi meja makan, penerapan ekonomi sirkular melalui pupuk alami, serta kegiatan berkebun seperti menanam pohon dan menyemai benih dengan pendekatan agroekologi berbasis family farming.
Pesantren At-Thorik juga menggelar diskusi dan seminar tentang perspektif keagamaan terhadap lingkungan, baik melalui konsep Green Islam dalam tradisi Islam maupun refleksi ekologis dalam ajaran Katolik yang tertuang dalam ensiklik Laudato Si’ (Terpujilah Engkau).
Ketua panitia sekaligus pengurus Pesantren At-Thorik berharap gerakan ini mampu menanamkan kesadaran ekologis yang berkelanjutan di kalangan anak muda. “Youth Ecology Lintas Iman terbuka bagi siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan bumi. Kami ingin kesadaran ini tumbuh dan menjadi gerakan bersama,” ujarnya.
Dalam forum diskusi, para peserta aktif bertukar gagasan dan pengalaman tentang cara merawat serta melestarikan alam. Salah satu perwakilan Pemuda OFM menyampaikan pesan reflektif, “Kita hidup dari alam, tetapi jangan sampai membunuh alam.” Ungkapan tersebut menjadi pengingat bahwa relasi manusia dan lingkungan harus dibangun atas dasar cinta dan tanggung jawab.
Sementara itu, Rahma juga menekankan pentingnya gaya hidup sederhana dan penuh kesadaran. “Hiduplah secara sederhana, hindari sikap serakah dan budaya membuang. Mulailah memilah sampah dari rumah, karena tidak ada tempat yang benar-benar ingin menjadi rumah bagi sampah,” tutur ketua IPPNU Garut dalam diskusi yang berlangsung hangat dan reflektif.
Di tengah tantangan lingkungan global seperti perubahan iklim, polusi, dan kerusakan ekosistem, Youth Camp Lintas Iman: Merawat Bumi, Merajut Persaudaraan hadir sebagai ruang harapan. Kegiatan ini menegaskan bahwa perbedaan iman bukan penghalang untuk bekerja bersama demi masa depan yang lebih berkelanjutan.
Melalui kolaborasi, kesadaran, dan aksi nyata, generasi muda diharapkan mampu menjadi agen perubahan—menularkan nilai kepedulian lingkungan, merajut persaudaraan, serta mewariskan bumi yang lebih adil, seimbang, dan layak huni bagi generasi mendatang.
Pewarta : M.Y.A Sastradimadja


Tidak ada komentar