lingkungan nasional Opini Peristiwa Sorotan

Penyebab Banjir Besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat

Desember 02, 2025
0 Komentar
Beranda
lingkungan
nasional
Opini
Peristiwa
Sorotan
Penyebab Banjir Besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat

Oleh : Andi Amien Assegaf

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terparah dalam satu dekade terakhir di Indonesia. Hingga 1 Desember 2025, korban jiwa mencapai lebih dari 630 orang, ratusan ribu warga mengungsi, dan kerusakan infrastruktur mencapai ribuan rumah serta ratusan jembatan.

Apa yang sebenarnya menjadi penyebab banjir dahsyat ini? Berikut analisis lengkapnya:

1. Curah Hujan Ekstrem Akibat Siklon Tropis

Pemicu utama adalah hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem yang terjadi selama 25–28 November 2025. BMKG mencatat curah hujan di beberapa wilayah mencapai 200–400 mm dalam 24 jam, setara dengan curah hujan satu bulan penuh dalam waktu singkat.

Penyebab cuaca ekstrem ini adalah:

  • Bibit siklon tropis 95B yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di perairan Selat Malaka dan Samudra Hindia barat Aceh.
  • Terbentuknya sistem awan hujan skala besar (Mesoscale Convective Complex/MCC) yang bertahan lama di atas Sumatera bagian utara.
  • Kombinasi fenomena La Niña yang sedang aktif, sehingga musim hujan 2025/2026 lebih basah dari rata-rata.

2. Deforestasi Parah di Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS)

Hujan lebat saja tidak cukup membuat banjir bandang sebesar ini jika fungsi hutan masih baik. Sayangnya, kerusakan hutan di Pegunungan Bukit Barisan dan dataran tinggi Aceh sudah sangat kritis:

  • Sumatera Utara: Tutupan hutan tinggal ~29% (data 2020–2024), banyak hutan lindung di hulu Batang Toru, Batang Gadis, dan Asahan berubah jadi kebun sawit dan tambang.
  • Aceh: Meski tutupan hutan masih relatif luas, pembalakan liar dan konversi hutan di Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Aceh Selatan terus terjadi.
  • Sumatera Barat: Kerusakan di hulu Batang Anai dan daerah Solok Selatan mempercepat aliran air permukaan.

Akibatnya, air hujan langsung mengalir deras (run-off) tanpa tertahan oleh akar pohon dan serasah hutan.

3. Aktivitas Pertambangan dan Perkebunan yang Merusak

Izin pertambangan batubara, emas, dan mineral lainnya di ketiga provinsi memperparah situasi:

  • Sumatera Utara: Luas konsesi tambang aktif mencapai lebih dari 142.000 hektare.
  • Aceh: Ratusan izin tambang emas dan galian C di Aceh Tengah, Aceh Barat Daya, dan Nagan Raya.
  • Banyak tambang ilegal yang membabat hutan tanpa reklamasi.

Lahan bekas tambang menjadi “baskom raksasa” yang mudah longsor saat hujan deras.

4. Pembangunan yang Mengabaikan Zona Rawan Bencana

  • Permukiman dan infrastruktur dibangun di bantaran sungai, lereng curam, dan sempadan sungai.
  • Drainase perkotaan buruk, terutama di kota-kota seperti Medan, Pematangsiantar, Padangsidimpuan, dan Banda Aceh.
  • Banyak jalan nasional dan jembatan dibangun tanpa mempertimbangkan debit banjir 50–100 tahunan.

5. Perubahan Iklim sebagai Latar Belakang

La Niña 2025–2026 yang kuat membuat curah hujan di Sumatera bagian utara 20–40% di atas normal. Kejadian serupa diperkirakan akan semakin sering terjadi jika emisi gas rumah kaca tidak ditekan.

Kesimpulan

Banjir besar November 2025 bukan semata “bencana alam”, melainkan bencana ekologis yang dipicu oleh kombinasi cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Solusi jangka panjang yang harus segera dilakukan:

  • Reboisasi masif di hulu DAS kritis
  • Penghentian dan pencabutan izin tambang di kawasan lindung
  • Relokasi permanen permukiman di zona merah banjir bandang dan longsor
  • Penegakan hukum terhadap pembalakan liar
  • Perbaikan sistem peringatan dini dan tata ruang berbasis risiko bencana

Tanpa perbaikan mendasar pada pengelolaan lingkungan, bencana serupa akan terus berulang, dengan skala yang semakin besar. Alam telah mengirim peringatan keras; kini giliran manusia yang harus bertindak.

Andi Amien Assegaf, penulis adalah pemerhati lingkungan hidup

Tidak ada komentar