Beranda
nasional
Opini
Politik.pemerintahan
Sorotan
"Pelacuran Idealisme"

Oleh : Andi Amien Assegaf

Pertemuan antara Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), di kediaman pribadinya di Solo pada 8 Januari 2026, memicu kritik tajam dari berbagai kalangan. Meskipun pertemuan tersebut difasilitasi oleh relawan Jokowi (ReJO)  dan digambarkan berlangsung penuh keakraban (dengan aksi berpelukan dan pemberian hadiah buku),pertemuan tersebut ternyata dihadiri oleh 2 orang penyidik POLRI.

Pertemuan dengan Jokowi di Solo Pada Kamis, 8 Januari 2026, Eggi Sudjana bersama Damai Hari Lubis mengunjungi kediaman pribadi Joko Widodo di Solo. Dalam pertemuan tertutup tersebut, Eggi dilaporkan menyampaikan permohonan maaf secara langsung terkait perseteruan hukum yang terjadi.

Pertemuan tersbut disinyalir merupakan Momen Rekonsiliasi hal tersebut sesuai  keterangan relawan ReJO yang mendampingi pertemuan tersebut menyatakan berlangsung haru dan diwarnai dengan aksi berpelukan sebagai simbol perdamaian. Pihak kuasa hukum Jokowi menyatakan akan mempertimbangkan pemberian maaf secara formal untuk menyelesaikan kasus hukum yang menjerat Eggi.

Sebelumnya, pada Mei 2025, Eggi dilaporkan mengalami sakit kanker usus dan harus menjalani operasi. Kondisi kesehatannya ini sempat membuatnya mangkir dari beberapa panggilan pemeriksaan kepolisian.

Kritik paling keras datang dari rekan seperjuangan mereka dalam kasus ijazah, Roy Suryo” Ia menyebut Eggi Sudjana bukan lagi seorang pejuang dan memilih untuk menertawakan langkah rekonsiliasi tersebut. Roy menegaskan bahwa langkah Eggi yang meminta maaf secara langsung tidak ada sangkut pautnya dengan perjuangan hukum yang ia jalankan secara mandiri.

Yang tak kalah kritisnya adalah tokoh publik seperti Said Didu melontarkan sindiran menohok dengan menyebut manuver Eggi tersebut sebagai upaya "kembali ke aslinya," yang mengisyaratkan bahwa idealisme yang selama ini ditunjukkan dianggap luntur demi kepentingan tertentu atau sekadar mencari jalan aman dari proses hukum.

Publik dan pakar mengkritik momentum pertemuan yang terjadi saat Eggi Sudjana berstatus tersangka” dalam kasus pencemaran nama baik terkait ijazah palsu. Kritikus menilai langkah ini sebagai upaya strategis untuk mendapatkan pengampunan atau restorative justice agar kasus hukumnya dihentikan, mengingat kuasa hukum Jokowi mulai bicara soal kemungkinan pemberian maaf.

Sepak terjang kontroversial dari Eggi Sudjana ini apakah sudah dapat dikategorikan sebagai “Pelacuran idealism ?”, ada baiknya kita bahas tentang pelacuran idealism biar nanti pembaca yang akan mengambil kesimpulan sendiri.

"Pelacuran idealisme" menurut penulis adalah sebuah metafora tajam yang menggambarkan kondisi ketika seseorang terutama tokoh intelektual, aktivis, atau praktisi hukum mengkhianati nilai-nilai dasar, prinsip moral, atau keyakinan intelektualnya dengan meninggalkan prinsip-prinsip moral dan perjuangan yang selama ini mereka suarakan demi kepentingan pragmatis,demi mendapatkan keuntungan materi, jabatan, atau keamanan posisi  

Istilah ini sering digunakan dalam kritik sosial dan politik untuk menggambarkan fenomena berikut:

1. Intelektual dan Akademisi

Kondisi ini terjadi ketika seorang ilmuwan atau akademisi,aktivis tidak lagi menyuarakan kebenaran berdasarkan data dan objektivitas, melainkan memanipulasi argumen untuk melegitimasi kebijakan penguasa atau kepentingan penyandang dana. Mereka menjadi "tukang stempel" kebijakan yang sebenarnya merugikan publik.

2. Aktivis Politik

Banyak aktivis yang awalnya idealis dalam memperjuangkan hak rakyat, namun setelah masuk ke lingkaran kekuasaan, mereka justru berbalik mendukung sistem yang dulu mereka kritik. Pengabaian terhadap penderitaan rakyat demi kursi jabatan sering disebut sebagai bentuk nyata dari pelacuran idealisme ini. 

3. Media dan Jurnalisme

Fenomena ini muncul ketika media massa tidak lagi berperan sebagai pilar keempat demokrasi, melainkan menjadi alat propaganda pemilik modal atau kepentingan politik tertentu [4]. Informasi yang disajikan tidak lagi berpihak pada kebenaran, melainkan pada siapa yang membayar atau memberikan akses kekuasaan [4].

Mengapa Ini Pelacuran IdealismeTerjadi?

Beberapa faktor pendorong utama terjadinya Pelacuran Idealisme antara lain  adalah:

·         Pragmatisme Ekonomi: Kebutuhan hidup dan gaya hidup yang sering kali membuat idealisme dianggap "tidak mengenyangkan".

·         Haus Kekuasaan: Ambisi pribadi untuk memiliki pengaruh dan kontrol sosial

·         Tekanan Sistem: Lingkungan yang tidak mendukung integritas, sehingga orang yang jujur justru tersingkir atau dikriminalisasi

Secara luas, pelacuran idealisme menyebabkan krisis kepercayaan (distrust) di masyarakat. Ketika tokoh-tokoh yang dianggap sebagai kompas moral bangsa (seperti dosen, aktivis, atau tokoh agama) mulai bisa "dibeli", masyarakat kehilangan arah dan standar moral dalam kehidupan berbangsa

Dalam konteks pembangunan, hal ini sering berujung pada kebijakan yang merusak lingkungan atau merugikan rakyat kecil, karena para pembuat kebijakan dan pendukung intelektualnya telah menggadaikan idealisme mereka kepada kepentingan.

 Penulis : Andi Amien Assegaf, adalah aktivis HAM dan pemerhati                      masalah Sosial 

Tidak ada komentar