(BAGIAN PERTAMA)
Abdullah bin
‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Aku mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرَعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَيَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُم
‘Apabila kalian
telah berjual beli dengan cara ‘inah, dan kalian telah disibukkan memegang
ekor-ekor sapi, dan telah senang dengan bercocok tanam dan juga kalian telah
meninggalkan jihad, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan
kuasakan/timpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dicabut/dihilangkan kehinaan
tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian’.”
Hadits di atas
diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3003 dalam kitab al-Buyu’, bab “an-Nahyu
‘anil ‘Inah[1]” dan al- Imam Ahmad (2/28). asy-Syaikh
al-Albani rahimahullah menyatakan hadits ini sahih dalam
kitabnya Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no.11.
Sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَ
أَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ (Kalian telah sibuk memegang ekor-ekor
sapi) merupakan kinayah (kiasan) tersibukkannya seseorang dengan pertanian
sehingga lalai untuk berjihad[2] di jalan Allah subhanahu wa
ta’ala.
Adapunوَرَضِيتُمْ بِالزَّرَعِ (telah senang dengan
bercocok tanam) merupakan kinayah tentang keberadaan mereka yang menjadikan
bercocok tanam sebagai ambisi dan perhatian utama.
Adapun maksud
ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ (hingga kalian kembali
kepada agama kalian) adalah kalian kembali menyibukkan diri dengan
amalan-amalan agama (dengan mengilmui amalan tersebut sebelum mengamalkannya
–pen.) (Subulus Salam, 3/64)
Kehinaan
Muslimin Karena Meninggalkan Ajaran Agamanya
Pantas dicatat
dengan tinta emas, masa-masa gemilang dan kejayaan kaum muslimin pada kurun
terdahulu. Bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kemuliaan
kepada mereka hingga musuhmusuh dari kalangan kuffar sangat takut dan bertekuk
lutut di hadapan mereka, sampai-sampai dinyatakan dalam hadits
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kaum kafirin itu sudah
amat takut ketika mendengar kaum muslimin akan mendatangi mereka walaupun dalam
jarak sebulan perjalanan yang memisahkan mereka dengan kaum muslimin.[3]
Termaktub dalam
sejarah Islam, bagaimana kaum muslimin mampu meruntuhkan dan menguasai dua
kerajaan besar yang menguasai bagian dunia dan diibaratkan negara adi daya di
masa itu, Persia dan Romawi. Mereka guncangkan takhta Kisra dan Kaisar.
Hal ini
sebagaimana pengabaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ الله زَوَى لِيَ الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا، وَأُعْطِيْتُ الْكَنْزَيْنِ : الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ
“Sesungguhnya
Allah subhanahu wa ta’ala mengumpulkan/melipat bumi
untukku hingga aku dapat melihat timur dan baratnya. Dan sungguh kerajaan
umatku akan sampai ke bagian bumi yangdilipatkan untukku tersebut
(timur dan barat bumi). Aku diberi dua perbendaharaan: merah dan
putih[4].” (HR. Muslim no. 2889)
Demikianlah
generasi terdahulu dari kaum ini dapat mencapai kemuliaan yang begitu tinggi.
Hal ini bukan karena kekayaan materi mereka. Bukan pula karena mereka menguasai
IPTEK, walaupun hal ini dibolehkan bagi mereka bila mereka mampu. Namun mereka
diberikan kemuliaan oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena keimanan
dan ketakwaan mereka kepada-Nya, berpegang teguh dengan agama-Nya, membenarkan
seluruh ajaran-Nya dan selalu beramal untuk negeri akhirat.
Sebagaimana
janji Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya,
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ
ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ
مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ
وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا
يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ
ٱلۡفَٰسِقُونَ ٥٥
“Allah telah
berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan
amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di
bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka
berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah
diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benarbenar akan mengganti keadaan mereka
sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap
beribadah kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan-Ku. Dan
barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah
orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)
Ayat di atas
merupakan janji Allah subhanahu wa ta’ala kepada
Rasul-Nya subhanahu wa ta’ala di mana Dia akan menjadikan umat beliau
sebagai pemimpin dan penguasa manusia. Hal ini disebabkan karena dengan
kepemimpinan dan penguasaan mereka akan menjadi baiklah negeri-negeri dan umat
manusia. Dahulunya kaum muslimin takut kepada manusia namun sesuai dengan janji
Allah subhanahu wa ta’ala ini, Allah subhanahu wa
ta’ala akan gantikan rasa takut tersebut dengan keamanan.
Allah subhanahu
wa ta’ala juga telah memenuhi janji-Nya, di mana sebelum
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Allah subhanahu
wa ta’ala bukakan untuk beliau kota Makkah, Khaibar, Bahrain, seluruh
Jazirah Arab dan seluruh negeri Yaman. Beliau mengambil jizyah dari orang Majusi
Hajar dan dari sebagian penduduk Syam.
Demikian pula
Heraklius, Raja Romawi serta Muqauqis penguasa Mesir dan Iskandariyyah, tunduk
kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula raja-raja
negeri ‘Amman dan Najasyi raja Habasyah (Ethiopia). (Tafsir Ibnu Katsir, 5/423)
Kemudian
sepeninggal beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, khalifah
beliau memegang pemerintahan. Dia mengutus pasukan muslimin ke negeri Persia
dipimpin Khalid ibnul Walid radhiallahu ‘anhu. Pasukan yang lain menuju negeri
Syam dipimpin Abu ‘Ubaidah radhiallahu ‘anhu dan pasukan ketiga
dipimpin ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhu menuju negeri Mesir.
Allah subhanahu wa ta’ala pun membukakan kemenangan di hari-hari Abu
Bakar radhiallahu ‘anhu sampai dia kembali ke sisi-Nya.
‘Umar ibnul
Khaththab radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah kedua meneruskan dengan
sempurna apa yang telah dilakukan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.
Sehingga semasa beliau hidup negeri Syam dikuasai sepenuhnya, demikian pula
Mesir dan kebanyakan daerah Persia. Hancurlah dengan sehancur-hancurnya Kisra
dan Kaisar.
Demikian pula
di masa ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu, perjuangan pendahulunya
tetap ia teruskan. Hingga di masanya timur dan barat bumi telah dikuasai kaum
muslimin. Segala puji bagi Allah atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya.
Janji yang
diberikan Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat ini akan terus berlaku
sampai hari kiamat. Selama mereka menegakkan keimanan dan amal saleh maka pasti
akan diperoleh apa yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada
mereka. Mereka dapat dikuasai oleh orang-orang kafir dan munafik hanya
dikarenakan mereka menyia-nyiakan iman dan amal saleh (yang diperintahkan
kepada mereka). (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 573)
Sebaliknya,
kenyataan pahit yang kita dapati pada hari-hari ini, yang kaum muslimin
direndahkan musuh-musuhnya dan kehinaan pun menyelubungi dan menguasai mereka.
Bukan karena mereka tidak memiliki materi dan bukan pula karena mereka tidak
menguasai IPTEK.
Namun karena
mereka jauh dari ajaran agama mereka, tenggelam dalam kehidupan dunia dan
bergelimang dalam lumpur dosa dan maksiat, mereka membiarkan kecurangan dan
kezaliman tanpa berupaya untuk berbuat untuk mencegah kecurangan dan kezaliman
tersebut. membiarkan agama Islam di hina, ulama-ulama dizolimi, orang-orang
jujur dimusuhi, mereka tenggelam dalam kesibukan dunia dan ingin hidup kekal di
muka bumi dengan enggan untuk berjihad. Karena anggapan mereka, jihad identik
dengan mati konyol dan berpisah dengan kesenangan hidup.
Kehinaan yang
menimpa kaum muslimin bukanlah disebabkan kebodohan mereka dengan fikih yang
populer pada hari ini dengan istilah “fiqhul waqi’”! Namun yang menjadi sebab
utama dikarenakan mereka menyia-nyiakan untuk beramal dengan hukum-hukum agama,
baik dari al-Qur’an maupun dari as-Sunnah, sebagaimana datang keterangannya
dalam hadits yang sahih[5] ini.
Ucapan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : إِذَا
تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ (Apabila kalian telah berjual beli dengan
cara ‘inah) merupakan isyarat satu jenis dari muamalah ribawiyah yang mengandung
unsur tipu muslihat terhadap syariat.
Adapun sabda
beliau: وَ أَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ(dan
kalian telah disibukkan memegang ekor-ekor sapi) merupakan isyarat tentang
sangat perhatiannya seseorang terhadap perkara-perkara dunia dan kecenderungan
padanya sementara perkara syariat dan hukum-hukumnya diabaikan.
Yang semisal
dengan ini sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: وَرَضِيتُمْ بِالزَّرَعِ (kalian telah senang
dengan bercocok tanam). Sementara sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam: وَ تَرَكْتُمُ الْجِهَادَ (kalian
telah meninggalkan jihad) merupakan buah dari keinginan hidup kekal di dunia
sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَا لَكُمۡ إِذَا قِيلَ لَكُمُ
ٱنفِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلۡتُمۡ إِلَى ٱلۡأَرۡضِۚ أَرَضِيتُم
بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا مِنَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ فَمَا مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا
فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ ٣٨
“Wahai
orang-orang yang beriman, ada apa dengan kalian, apabila dikatakan kepada
kalian, ‘Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah,’ kalian merasa berat dan
ingin diam di tempat kalian? Apakah kalian lebih senang dengan kehidupan dunia
daripada kehidupan akhirat, padahal tidaklah kehidupan dunia itu dibanding
dengan akhirat kecuali sedikit.” (At-Taubah: 38)
(Sual wa
Jawab Haula Fiqhil Waqi’, hlm. 53—54)
Meninggalkan Jihad
fi Sabilillah Termasuk Sebab Kerendahan Umat
Jihad fi
sabilillah termasuk amalan yang utama. Allah subhanahu wa
ta’ala mengibaratkan orang yang berjihad di jalan-Nya seperti orang yang
sedang melakukan jual beli dengan-Nya di mana jannah (surga) sebagai
pembayarannya.
إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ
وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ
فَيَقۡتُلُونَ وَيُقۡتَلُونَۖ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ
وَٱلۡإِنجِيلِ وَٱلۡقُرۡءَانِۚ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِعَهۡدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِۚ
فَٱسۡتَبۡشِرُواْ بِبَيۡعِكُمُ ٱلَّذِي بَايَعۡتُم بِهِۦۚ وَذَٰلِكَ هُوَ
ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١١١
“Sesungguhnya
Allah telah membeli dari kaum mukminin jiwa dan harta mereka, dengan surga bagi
mereka. Mereka berjihad di jalan Allah, mereka membunuh dan dibunuh. Itulah
janji yang benar dari Allah dalam kitab Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan
siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah
kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 111)
Pahala yang
diperoleh dengan amalan jihad ini demikian besar sehingga ketika ada sahabat
yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai
Rasulullah, amal apakah yang bisa menyamai jihad fi sabilillah?” Beliau
berkata, “Kalian tidak akan mampu melakukannya.” Lalu mereka mengulangi
pertanyaan ini dua hingga tiga kali namun beliau tetap menjawab, “Kalian tidak
akan mampu melakukannya.”
Setelahnya
beliau bersabda,
مَثَلُ الُجْمَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ الصَّائِم الْقَائِم الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللهِ، لاَ يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلاَ صَلاَةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الُجْمَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ تَعَال
“Permisalan
orang yang berjihad di jalan Allah seperti orang yang berpuasa, dia shalat dan
taat kepada ayat-ayat Allah. Dia tidak pernah berhenti dari shalat dan puasanya
itu sampai orang yang berjihad pulang
kembali.” ( HR. Muslim no. 1878)
Namun, wallahu
al-musta’an, karena cinta terhadap dunia dan takut mati, amalan yang begitu
besar nilainya tidak dipandang ataupun ditoleh oleh kebanyakan kaum muslimin.
Amalan yang utama ini dilempar jauh di belakang mereka. Bahkan ada di antara
mereka yang salah kaprah terhadap jihad, dengan perkataan di antaranya: Jihad
itu mati konyol, tidak ada itu yang namanya jihad sebab jihad itu jahat dan
Islam itu rahmah, jihad itu sudah lewat masanya dan segudang perkataan yang
lain.
Akibatnya
kehinaan dan kerendahan pun ditimpakan pada mereka. Jumlah mereka banyak namun
tiada berarti di hadapan musuh-musuh mereka sebagaimana digambarkan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
يَوْشِكُ الْأَمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَال قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةِ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ لَكِنَّكُم غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ،وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِي قُلُوْبِكُمُ الْوَهْنَ. فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَاالْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Hampir-hampir
umat-umat (di luar kalian) mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang
makan mengerumuni piring hidangannya.”
Ada yang
bertanya kepada beliau, “Apakah disebabkan jumlah kita sedikit pada saat itu?”
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab, “Bahkan kalian pada hari itu jumlahnya banyak,
akan tetapi kalian hanyalah buih seperti buih yang dibawa air bah (banjir) dan
sungguh Allah subhanahu wa ta’ala akan mencabut dari dada-dada musuh
kalian rasa segan (ketakutan) terhadap kalian dan Allah akan lemparkan ke dalam
hati-hati kalian al-wahn.”
Seseorang
bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apakah al-wahn itu?”
“Cinta dunia
dan takut mati,” jawab beliau. (HR. Ahmad, 5/278 dan Abu Dawud no. 4297,
dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh
al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahihah no. 958)
Hadits ini
menunjukkan dua hal:
Islam itu tidak
butuh kepada (orang-orang yang ibaratnya) buih seberapa pun besarnya.
Pokok/asal
penyakit itu munculnya dari hati, dikarenakan “cinta dunia dan takut mati”
adalah dua penyakit hati. Tempat asal akidah juga di hati, sehingga dari sini
jelaslah bahwa perbaikan (tashhih) akidah adalah pokok/asas dari suatu
perbaikan (ishlah).
Dan pada
perkara inilah kaum muslimin sebaiknya dan seharusnya menyibukkan diri mereka.
Hingga seandainya pun musuh yang kuat, zalim lagi aniaya hendak menimpakan
kejelekan kepada mereka niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan
menolak keinginannya tersebut hingga musuh-musuh kaum muslimin kembali dengan
rendah lagi hina dina. Walaupun dia telah mengumpulkan (kekuatan) orang-orang
antara Timur dan Barat.
Allah subhanahu
wa ta’ala berfirman,
قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُواْ ٱللَّهِ كَم مِّن
فِئَةٖ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ
ٱلصَّٰبِرِينَ٢٤٩
“Berkatalah
orang-orang yang yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Allah: Berapa banyak
terjadi golongan yang kecil/sedikit dapat mengalahkan golongan yang berjumlah
banyak/besar dengan izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang
sabar.” (Al-Baqarah: 249) (as-Sabil ilal ‘Izzi wat Tamkin, hlm.
49)
Al-Imam
asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Sebab kerendahan dan kehinaan
ini, wallahu a’lam, yaitu tatkala mereka meninggalkan jihad fi sabilillah,
sementara di dalam jihad ini ada kemuliaan bagi Islam. Juga dengan jihad, agama
ini akan menang di atas seluruh agama lain.
Kemudian
Allah subhanahu wa ta’ala menimpakan kepada mereka lawan dari
kemuliaan itu berupa turunnya kehinaan dan kerendahan, karena mereka berjalan
di belakang ekor-ekor sapi yang sebelumnya mereka menunggangi (duduk) di atas
punggung-punggung kuda yang merupakan tempat paling mulia (ketika mereka
menungganginya di saat berlaga di medan peperangan jihad fi sabilillah -pen.).”
(Nailul Authar, 3/251)
Dengan
meninggalkan jihad berarti mereka menjatuhkan diri mereka ke dalam kebinasaan
padahal Allah subhanahu wa ta’ala melarang kita menjatuhkan diri ke
dalam kebinasaan.
وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ
“Dan janganlah
kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (al-Baqarah: 195)
Ayat yang mulia
di atas, Allah subhanahu wa ta’ala turunkan sebagai teguran kepada
sebagian sahabat yang berkeinginan untuk menyarungkan pedang-pedang mereka
(tidak lagi berjihad) dan berencana untuk membenahi harta mereka setelah
Allah subhanahu wa ta’ala memberikan banyak kemenangan kepada Islam
dan muslimin sehingga mereka beranggapan selesailah tugas mereka berjihad dan
tiba saatnya bagi mereka mengurusi dunia.
Abu ‘Imran
at-Tujibi berkisah, “Kami keluar untuk berperang menuju Konstantinopel
menghadapi pasukan Romawi, sementara yang memimpin pasukan adalah Abdurrahman
bin Khalid ibnul Walid. Pasukan Romawi pada waktu itu merapatkan
punggung-punggung mereka ke tembok kota Konstantinopel (yakni telah siap
berperang dan menghadang musuh). Lalu seseorang dari kami (pasukan muslimin)
maju menghadapi musuh hingga ia masuk ke barisan mereka.
Melihat hal itu
orang-orang pun berteriak dengan menyatakan, “Cegah! Cegah! La ilaha illallah!
Dia telah menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan.” Mendengar hal itu, bangkitlah
Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu seraya berkata, “Kalian telah
menakwilkan ayat ini dengan penakwilan yang demikian, ketika melihat ada
seseorang yang maju berperang karena ingin mati syahid.
Padahal ayat
ini turun berkenaan dengan diri-diri kami orang-orang Anshar. Tatkala
Allah subhanahu wa ta’ala telah menolong Nabi-Nya dan memenangkan
Islam, kami pun berkata di antara kami dengan menyembunyikannya dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Marilah kita benahi dan kita
perbaiki harta-harta kita.’
Allah subhanahu
wa ta’ala pun menurunkan ayat,
وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ
إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ
“Berinfaklah
kalian di jalan Allah dan janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian ke
dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195)
Yang dikatakan
kebinasaan adalah mengurus harta, mengutamakan dan memperbaikinya, sementara
jihad kita tinggalkan dan kita abaikan.” (HR. Abu Dawud no. 2151,
dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh
al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahihah no. 13)
Jalan Keluar
dari Kehinaan
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memberikan solusi bagi umatnya untuk keluar dari
kehinaan yang menimpa mereka, yaitu dengan kembali kepada ajaran agama mereka.
Kembali bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mentauhidkan-Nya dan
menjauhi kesyirikan. Kembali berpegang teguh dengan seluruh ajaran agama Islam
sebagaimana yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam tanpa memilah-milah atau memilih-milih mana yang sesuai dengan
selera hawa nafsu dan mana yang tidak sesuai dengan selera hawa nafsu.
Allah subhanahu
wa ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ
كَآفَّةٗ
“Wahai
orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam
secara kaffah.” (Al-Baqarah: 208)
Asy-Syaikh
al-Albani rahimahullah berkata, “Dalam sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ
“Niscaya
Allah subhanahu wa ta’ala akan kuasakan/timpakan kehinaan kepada
kalian, tidak akan dicabut/dihilangkan kehinaan tersebut hingga kalian kembali
kepada agama kalian.”
Terdapat
isyarat yang jelas bahwa agama yang kita harus kembali kepadanya adalah agama
yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan dalam banyak ayat-Nya yang mulia.
Seperti dalam firman-Nya,
إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ
“Sesungguhnya
agama di sisi Allah adalah Islam.” (Ali Imran: 19) Dan dalam
firman-Nya,
ٱلۡيَوۡمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمۡ فَلَا
تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِۚ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ
عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ
“Pada hari ini
telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan Ku sempurnakan atas kalian
nikmat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al-Maidah:
3) (Sual wa Jawab Haula Fiqhil Waqi’, hlm. 54)
Termasuk ajaran
agama Islam yang mulia ini adalah jihad fi sabilillah, berperang melawan
orang-orang kafir di medan peperangan, berperang melawan penista-penista Islam,
berperang melawan kecurangan dan kedzoliman Sehingga sepantasnya bagi seorang mukmin
untuk selalu bersiap diri dalam rangka membela agama Allah subhanahu wa
ta’ala kapan pun dibutuhkan meski harus mengorbankan jiwa raganya.
Seorang mukmin
bukanlah seorang penakut dan pengecut serta kecil nyalinya menghadapi musuh.
Seorang mukmin bukan pula seorang yang tidak pernah terbetik di hatinya untuk
berjihad karena dia paham dan takut dengan ancaman Rasulnya yang
mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ، مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ
“Siapa yang
mati dan belum pernah berjihad serta tidak pernah terbetik di hatinya
(keinginan) untuk berjihad, dia mati di atas satu cabang kemunafikan[6].” (HR. Muslim no. 1910)
Mudah-mudahan
Allah subhanahu wa ta’ala memberi taufik kepada kita untuk selalu
berpegang teguh dengan ajaran agama-Nya dan selalu siap membela agama-Nya di
jalan yang haq, tanpa rasa gentar kepada musuh-musuh agama ini. Wallahu
al-musta’an.
Wallahu ta’ala
a’lam bish-shawab.
Andi B,Amien
Asgf

Tidak ada komentar