Teropongtimeindonesia.onliene-Makassar-
Saat itu usia saya sekitar 5 tahun, setiap hari saya bersama teman-teman sebaya
bermain di depan halaman rumah, kampung kami di Arkam sangat indah, tanaman
padi tumbuh dengan subur di halaman rumah banyak tumbuh pohon buah-buahan. Hari
itu saya tidak tau hari apa karena saya belum paham tentang itu namun seingat
saya tiba-tiba saat bermain rumah-rumah di kampung kami di bakar oleh
orang-orang berseragam tentara, mereka menarik paksa keluar orang-orang yang
ada dalam rumah terus mereka dipukuli, ditendang dibunuh dengan
ditembak,ditebas dan ditusuk benda tajam. perempuan-perempuan yang sudah besar
pakaiannya di robek paksa dan tak tahu apa yang mereka lakukan, yang jelas
mereka juga akhirnya dibunuh ditembak, dibakar hidup-hidup.
Saya sangat ketakutan
melihat situasi seperti itu, saya menangis sejadi-jadinya tiba-tiba ayah
saya datang dan menggendong saya dan terus berlari dengan
sekencang-kencangnya. setelah beberapa menit ayah saya berlari disitu juga
sudah ada ibu dan kakak saya, saya terus menangis ketakutan sambil terus
memeluk ayah saya, ayah, ibu dan kakak saya terus berlari, dijalan yang kami
lewati banyak bergelimpangan orang yang mati dengan luka yang mengerikan kami
terus menyusuri sungai tanpa perahu terus masuk di hutan sambil terus berlari,
ayah, ibu dan kakak hanya berhenti sejenak bila ingin minum di sungai dan
mengambil buah-buahan di pohon yang kami lewati pakaian kami kering di badan.
Saya tidak tahu berapa hari kami berlari di hutan belantara, melewati sungai
yang jelas situasi itu sungguh mencekam dan menakutkan buat saya. Hingga
akhirnya kami tiba di tepi pantai, disana kami bisa agak tenang sempat bermalam
beberapa hari menunggu kapal,saya tidak tau apa namanya tempat tersebut yang
jelas setelah 2 hari datang kapal kayu menjemput kami, ayah, ibu dan kakak saya
menaiki kapal bersama ratusan orang lainnya tak lama kemudian kapal yang kami
tumpangi berjalan.
Di atas kapal penuh sesak
dengan orang-orang, orang-orang hanya bisa duduk dan berdiri, kapal terus
menyusuri lautan yang luas dengan terjangan ombak yang sangat keras, angin yang
kencang membuat kapal kadang-kadang seperti ingin terbalik, sayapun menangis
ketakutan dan terus memeluk ayah dengan erat, kakak saya menangis demikian juga
dengan anak-anak lainnya beserta ibu-ibu menangis ketakutan. Kejadian seperti
ini terus berulang-ulang di tengah laut hingga menyebabkan banyak orang-orang
yang sakit ditambah lagi setelah berhari-hari di lautan kami kehabisan bekal
tak ada makanan yang bisa dimakan, air minum habis kami hanya bisa minum bila
hujan turun, orang-orang menampung air hujan untuk diminum orang-orang selalu
berdo’a agar turun hujan.
Berhari-hari dalam
perjalanan dengan kelaparan akhirnya banyak yang meninggal di atas kapal setiap
hari beberapa orang meninggal di kapal, yang meninggal setelah di shalati
mayatnya dibuang ke laut sungguh kondisi yang sangat mengerikan dan menyedihkan
keluarga saya yang juga ada ikut di atas kapal juga meninggal dunia karena
kehausan dan kelaparan. Setiap hari saya menangis karena kelaparan, ayah dan
ibu hanya bisa memberi air kepada saya, saya menjadi sangat kurus dan lemah.
Setelah berhari-hari
terombang-ambing di tengah laut maka tiba-tiba ada kapal yang mendekat ke
perahu yang kami tumpangi, kapal itu mendekati kapal kami dan setelah beberapa
saat mereka menaiki kapal yang kami tumpangi mereka berbicara setengah
berteriak, tak satupun orang dikapal yang paham apa yang dia ucapkan hingga
ayah saya mendekati mereka yang berpakaian seragam dengan pembicaraan yang
tidak ada titik temunya. Akhirnya kapal yang kami tumpangi ditarik ke daratan
orang-orang di atas kapal gembira bercampur rasa was-was karena sikap orang
berpakaian seragam tersebut yang tidak bersahabat (beberapa tahun kemudian baru
saya tahu kalau itu yang namanya polisi). Setelah kami sampai di darat kami
diturunkan dan setelah sampai di darat banyak orang yang kasihan pada kami,
kami diberi air minum dan makanan roti setelah beberapa saat kami dikelilingi
orang-orang yang member kami makanan tiba-tiba orang yang berpakaian seragam
tersebut menyuruh orang-orang tersebut menjauh kemudian orang-orang dewasa
diintirogasi satu-satu tapi tak satupun yang paham bahasa mereka dan kembali
ayah saya mendekati mereka denga bahasa isyarat memberi penjelasan akhirnya
ayah saya ditarik dan beberapa orang lainnya dibawa pergi oleh petugas
berseragam tersebut, saya menangis meraung-raung melihat ayah saya diperlakukan
seperti itu dan dibawa pergi. demikian juga ibu saya dan kakak saya ikut
menangis, disitulah saya terakhir melihat ayah saya, saya tak tahu lagi apa
yang terjadi dengan ayah saya.
Kami semua kemudian dibawa
ketempat penampungan dan selama beberapa bulan kami tinggal di tempat penampungan di Jakarta, selama
beberapa bulan tersebut tak ada kabar sama sekali tentang ayah saya. Setelah
beberpa bulan di Jakarta akhirnya Ibu, kakak dan saya di kirim ke Kota Makassar
pada tahun 2012, di kota inilah saya mulai hidup tenang tanpa adanya lagi
gangguan yang mengancam jiwa kami, di Makassar selama bertahun-tahun saya
bergaul dengan anak-anak sebaya saya yang berasal dari Makassar hingga ahirnya
saya fasih berbahasa Indonesia khas Makassar, Kota Makassar adalah kota yang
indah dan penduduknya ramah, namun dibalik keindahan dan keramahan Kota Makassar
tak ada yang tau kalau hampir setiap malam saya menangis merindukan ayahku ‘Iman
Hussen’ saya terpisah dengan ayah sejak tahun 2012. Sempat selama beberapa tahun tak ada kabar berita
tentang ayah saya, apakah dia masih hidup, apakah dia sehat, ataukah baik-baik
saja.
Ibuku, saya dan kakak
selalu menangis bila mengingat ayah, apalagi saya yang hampir tiap malam
merindukan pelukan ayah, teringat selalu saat ayah dibawah oleh polisi secara
paksa, saya dipaksa dipisahkan dalam gendongan ayah pada saat itu, ayahku bukan
penjahat kenapa dia dibawah oleh polisi, ayahku hanya mau menyelamatkam kami
sekeluarga dari pembunuhan tentara Myammar. Selama bertahun-tahun saya sangat
mencemaskan kehidupan ayahku, saya hanya bisa menangis setiap malam dan berdo’a
pada Allah agar ayahku Iman Hussen selamat.
Pada saat usia saya
memasuki 10 tahun pada awal tahun 2017 barulah kami dapat informasi tentang
keberadaan ayah kami melalui orang imigrasi, ayah saya saat ada ditahanan
Rudenim kalideres Jakarta Barat, ibu saya segera mencari info ke UNHCR dan
Imigrasi dan akhirnya kami bias berhubungan lewat telpon dan sekarang sudah bisa
Video Call lewat WA. Dari ayah kami disampaikan ternyata ayah saya selama
sekitar 4 tahun ditahan di Rutan Kalianda Lampung setelah dinyatakan bersalah
kasus penjualan orang, hati ibu sangat pilu mengetahui tentang itu kami semua
menangis, bagaimana mungkin ayah saya di tuduh melakukan penjualan orang
sedangkan kami saja sekeluarga meninggalkan negeri kami untuk menyelamatkan
nyawa kami dari pembantaian tentara myammar, ayah saya menyatakan saya tak tahu
apa yang di katakana polisi karna tak paham bahasa Indonesia pada saat itu bila
ditanya hanya mengangguk-angguk saja, tau-taunya ayah saya diproses hukum oleh
polisi, disidang di pengadilan dan dijatuhi hukuman sungguh tidak adil
apa yang dilakukan terhadap ayah saya.
Ayah saya sudah lebih 4
tahun ditahan di Rudenim kalideres Jakarta, sudah 8 tahun lebih saya terpisah
denagan ayah yang sangat saya sayangi entah sudah berapa puluh kali ibu saya
menyurat ke UNCR dan Imigrasi memohon agar ayah saya di bebaskan atau
dipindahka ke Makassar namun itu semua sia-sia, sama sekali tidak pernah ada
jawaban dari surat ibu selama 4 tahun menyurat. Titik terang ayah saya bisa
dibawa ke Makassar nanti setelah Bapak Andi Amien yang turun tangan membantu
kami, semoga Allah SWT segera mempertemukan saya kembali dengan ayah, saya
ingin memeluk ayah, ingin dekat ayah, ingin berbakti pada ayah.
Penjelasan dari LP3M
Indonesia Terkait Masalah Iman Hussen ayah dari Nurjan yang terpisah selama lebih
8 tahun.
Sementara itu Andi B.Amien
dari LP3M Indonesia yang selama aktif membantu
Pengungsi Rohingya termasuk upaya pembebasan Iman Hussen menyatakan bahwa
Polisi telah salah dalam penangkapan pada tahun 2012, saat itu Iman Hussen
bersama rombongan di kapal dalam status pencari suaka akibat genocida di
negaranya di Myammar. Orang-orang yang sementara mencari suaka tidak boleh ditangkap
hal ini diatur dalam Konvensi Internasional tahung 1951 tentang pengungsi
dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia. Polisi saat itu
seharusnya melakukan tindakan penyelamatan dan perlindungan bukan malah
sebaliknya ditangkapi. Kami telah berupaya untuk melakukan proses pembebasan
Bapak Iman Hussen sejak Januari 2020 dengan mengajukan permohonan secara resmi
dan kami telah bertemu beberapa kali dengan Kepala Rudenim Kalideres
dan juga dengan pihak Rudenim di Makassar, memang terlalu lama pak Hussen
ditahan di Rudenim Kalideres, seharusnya itu tidak perlu terjadi, langkah
kita tempuh adalah berusaha memindahkan ke Rudenim Makassar baru setelah
itu akan dibebaskan untuk berkumpul dengan keluarganya sebagaimana prosedur
imigrasi yang berlaku. Pada bulan Maret dan Desember 2020 juga kami sudah lanjutkan pengurusannya karena Pandemi Covid-19 maka pengurusan
perpindahan sempat tertunda disamping rekomendasi dari UNHCR juga lambat keluar
padahal sangat diperlukan oleh Direktorat Imigrasi. Satu hal juga yang menjadi kendala pada saat proses pemindahannya nanti karena menghabiskan
anggaran sekitar 20 Juta Rupiah, itu
untuk biaya pesawat Pak Hussen dan pendampinya ke Makassar beserta biaya
pengawalan 2 orang petugas Imigrasi dan semua biaya akomodasinya PP
dari Jakarta-Makassar-Jakarta ditanggung pihak Bapak Iman Hussen. Selama ini
proses pembebasan beliau dengan dengan biaya kami secara sukarela dari
Jakarta-Makassar, mudah-mudahan dalam Bulan
Maret 2021 ini Pak Iman Hussen sudah bisah dibawa ke Makassar, kalau ada pihak
lain yang mau membantu secara sukarela untuk kemanusiaan bisa menghubungi kami
di No Wa : 082310526762 demikian Andi Amien menutup pembicaraan.

Tidak ada komentar