Sorotan

KISAH PILU NUR JUMAH, GADIS ROHINGYA YANG TERPISAH DENGAN AYAH SELAMA LEBIH 8 TAHUN

Maret 04, 2021
0 Komentar
Beranda
Sorotan
KISAH PILU NUR JUMAH, GADIS ROHINGYA YANG TERPISAH DENGAN AYAH SELAMA LEBIH 8 TAHUN

Teropongtimeindonesia.onliene-Makassar- Saat itu usia saya sekitar 5 tahun, setiap hari saya bersama teman-teman sebaya bermain di depan halaman rumah, kampung kami di Arkam sangat indah, tanaman padi tumbuh dengan subur di halaman rumah banyak tumbuh pohon buah-buahan. Hari itu saya tidak tau hari apa karena saya belum paham tentang itu namun seingat saya tiba-tiba saat bermain rumah-rumah di kampung kami di bakar oleh orang-orang berseragam tentara, mereka menarik paksa keluar orang-orang yang ada dalam rumah terus mereka dipukuli, ditendang dibunuh dengan ditembak,ditebas dan ditusuk benda tajam. perempuan-perempuan yang sudah besar pakaiannya di robek paksa dan tak tahu apa yang mereka lakukan, yang jelas mereka juga akhirnya dibunuh ditembak, dibakar hidup-hidup.

Saya sangat ketakutan melihat situasi seperti itu, saya menangis sejadi-jadinya tiba-tiba ayah saya  datang  dan menggendong saya dan terus berlari dengan sekencang-kencangnya. setelah beberapa menit ayah saya berlari disitu juga sudah ada ibu dan kakak saya, saya terus menangis ketakutan sambil terus memeluk ayah saya, ayah, ibu dan kakak saya terus berlari, dijalan yang kami lewati banyak bergelimpangan orang yang mati dengan luka yang mengerikan kami terus menyusuri sungai tanpa perahu terus masuk di hutan sambil terus berlari, ayah, ibu dan kakak hanya berhenti sejenak bila ingin minum di sungai dan mengambil buah-buahan di pohon yang kami lewati pakaian kami kering di badan. Saya tidak tahu berapa hari kami berlari di hutan belantara, melewati sungai yang jelas situasi itu sungguh mencekam dan menakutkan buat saya. Hingga akhirnya kami tiba di tepi pantai, disana kami bisa agak tenang sempat bermalam beberapa hari menunggu kapal,saya tidak tau apa namanya tempat tersebut yang jelas setelah 2 hari datang kapal kayu menjemput kami, ayah, ibu dan kakak saya menaiki kapal bersama ratusan orang lainnya tak lama kemudian kapal yang kami tumpangi berjalan.

Di atas kapal penuh sesak dengan orang-orang, orang-orang hanya bisa duduk dan berdiri, kapal terus menyusuri lautan yang luas dengan terjangan ombak yang sangat keras, angin yang kencang membuat kapal kadang-kadang seperti ingin terbalik, sayapun menangis ketakutan dan terus memeluk ayah dengan erat, kakak saya menangis demikian juga dengan anak-anak lainnya beserta ibu-ibu menangis ketakutan. Kejadian seperti ini terus berulang-ulang di tengah laut hingga menyebabkan banyak orang-orang yang sakit ditambah lagi setelah berhari-hari di lautan kami kehabisan bekal tak ada makanan yang bisa dimakan, air minum habis kami hanya bisa minum bila hujan turun, orang-orang menampung air hujan untuk diminum orang-orang selalu berdo’a agar turun hujan. 

Berhari-hari dalam perjalanan dengan kelaparan akhirnya banyak yang meninggal di atas kapal setiap hari beberapa orang meninggal di kapal, yang meninggal setelah di shalati mayatnya dibuang ke laut sungguh kondisi yang sangat mengerikan dan menyedihkan keluarga saya yang juga ada ikut di atas kapal juga meninggal dunia karena kehausan dan kelaparan. Setiap hari saya menangis karena kelaparan, ayah dan ibu hanya bisa memberi air kepada saya, saya menjadi sangat kurus dan lemah.

Setelah berhari-hari terombang-ambing di tengah laut maka tiba-tiba ada kapal yang mendekat ke perahu yang kami tumpangi, kapal itu mendekati kapal kami dan setelah beberapa saat mereka menaiki kapal yang kami tumpangi mereka berbicara setengah berteriak, tak satupun orang dikapal yang paham apa yang dia ucapkan hingga ayah saya mendekati mereka yang berpakaian seragam dengan pembicaraan yang tidak ada titik temunya. Akhirnya kapal yang kami tumpangi ditarik ke daratan orang-orang di atas kapal gembira bercampur rasa was-was karena sikap orang berpakaian seragam tersebut yang tidak bersahabat (beberapa tahun kemudian baru saya tahu kalau itu yang namanya polisi). Setelah kami sampai di darat kami diturunkan dan setelah sampai di darat banyak orang yang kasihan pada kami, kami diberi air minum dan makanan roti setelah beberapa saat kami dikelilingi orang-orang yang member kami makanan tiba-tiba orang yang berpakaian seragam tersebut menyuruh orang-orang tersebut menjauh kemudian orang-orang dewasa diintirogasi satu-satu tapi tak satupun yang paham bahasa mereka dan kembali ayah saya mendekati mereka denga bahasa isyarat memberi penjelasan akhirnya ayah saya ditarik dan beberapa orang lainnya dibawa pergi oleh petugas berseragam tersebut, saya menangis meraung-raung melihat ayah saya diperlakukan seperti itu dan dibawa pergi. demikian juga ibu saya dan kakak saya ikut menangis, disitulah saya terakhir melihat ayah saya, saya tak tahu lagi apa yang terjadi dengan ayah saya.

Kami semua kemudian dibawa ketempat penampungan dan selama beberapa bulan kami tinggal  di tempat penampungan di Jakarta, selama beberapa bulan tersebut tak ada kabar sama sekali tentang ayah saya. Setelah beberpa bulan di Jakarta akhirnya Ibu, kakak dan saya di kirim ke Kota Makassar pada tahun 2012, di kota inilah saya mulai hidup tenang tanpa adanya lagi gangguan yang mengancam jiwa kami, di Makassar selama bertahun-tahun saya bergaul dengan anak-anak sebaya saya yang berasal dari Makassar hingga ahirnya saya fasih berbahasa Indonesia khas Makassar, Kota Makassar adalah kota yang indah dan penduduknya ramah, namun dibalik keindahan dan keramahan Kota Makassar tak ada yang tau kalau hampir setiap malam saya menangis merindukan ayahku ‘Iman Hussen’ saya  terpisah dengan ayah sejak  tahun 2012. Sempat  selama beberapa tahun tak ada kabar berita tentang ayah saya, apakah dia masih hidup, apakah dia sehat, ataukah baik-baik saja.

Ibuku, saya dan kakak selalu menangis bila mengingat ayah, apalagi saya yang hampir tiap malam merindukan pelukan ayah, teringat selalu saat ayah dibawah oleh polisi secara paksa, saya dipaksa dipisahkan dalam gendongan ayah pada saat itu, ayahku bukan penjahat kenapa dia dibawah oleh polisi, ayahku hanya mau menyelamatkam kami sekeluarga dari pembunuhan tentara Myammar. Selama bertahun-tahun saya sangat mencemaskan kehidupan ayahku, saya hanya bisa menangis setiap malam dan berdo’a pada Allah agar ayahku Iman Hussen selamat.

Pada saat usia saya memasuki 10 tahun pada awal tahun 2017 barulah kami dapat informasi tentang keberadaan ayah kami melalui orang imigrasi, ayah saya saat ada ditahanan Rudenim kalideres Jakarta Barat, ibu saya segera mencari info ke UNHCR dan Imigrasi dan akhirnya kami bias berhubungan lewat telpon dan sekarang sudah bisa Video Call lewat WA. Dari ayah kami disampaikan ternyata ayah saya selama sekitar 4 tahun ditahan di Rutan Kalianda Lampung setelah dinyatakan bersalah kasus penjualan orang, hati ibu sangat pilu mengetahui tentang itu kami semua menangis, bagaimana mungkin ayah saya di tuduh melakukan penjualan orang sedangkan kami saja sekeluarga meninggalkan negeri kami untuk menyelamatkan nyawa kami dari pembantaian tentara myammar, ayah saya menyatakan saya tak tahu apa yang di katakana polisi karna tak paham bahasa Indonesia pada saat itu bila ditanya hanya mengangguk-angguk saja, tau-taunya ayah saya diproses hukum oleh polisi, disidang di pengadilan dan dijatuhi hukuman  sungguh tidak adil apa yang dilakukan terhadap ayah saya.

Ayah saya sudah lebih 4 tahun ditahan di Rudenim kalideres Jakarta, sudah 8 tahun lebih saya terpisah denagan ayah yang sangat saya sayangi entah sudah berapa puluh kali ibu saya menyurat ke UNCR dan Imigrasi memohon agar ayah saya di bebaskan atau dipindahka ke Makassar namun itu semua sia-sia, sama sekali tidak pernah ada jawaban dari surat ibu selama 4 tahun menyurat. Titik terang ayah saya bisa dibawa ke Makassar nanti setelah Bapak Andi Amien yang turun tangan membantu kami, semoga Allah SWT segera mempertemukan saya kembali dengan ayah, saya ingin memeluk ayah, ingin dekat ayah, ingin berbakti pada ayah.

Penjelasan dari LP3M Indonesia Terkait Masalah Iman Hussen ayah dari Nurjan yang terpisah selama lebih 8 tahun.

Sementara itu Andi B.Amien  dari LP3M Indonesia yang selama aktif membantu Pengungsi Rohingya termasuk upaya pembebasan Iman Hussen menyatakan bahwa Polisi telah salah dalam penangkapan pada tahun 2012, saat itu Iman Hussen bersama rombongan di kapal dalam status pencari suaka akibat genocida di negaranya di Myammar. Orang-orang yang sementara mencari suaka tidak boleh ditangkap hal ini diatur dalam Konvensi Internasional tahung 1951 tentang pengungsi dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang  Hak Asasi Manusia. Polisi saat itu seharusnya melakukan tindakan penyelamatan dan perlindungan bukan malah sebaliknya ditangkapi. Kami telah berupaya untuk melakukan proses pembebasan Bapak Iman Hussen sejak Januari 2020 dengan mengajukan permohonan secara resmi dan kami telah bertemu  beberapa kali dengan Kepala Rudenim Kalideres dan juga dengan pihak Rudenim di Makassar, memang terlalu lama pak Hussen ditahan di Rudenim Kalideres, seharusnya itu tidak perlu terjadi, langkah  kita tempuh adalah berusaha memindahkan ke Rudenim Makassar baru setelah itu akan dibebaskan untuk berkumpul dengan keluarganya sebagaimana prosedur imigrasi yang berlaku. Pada bulan Maret dan Desember  2020 juga kami sudah lanjutkan pengurusannya  karena Pandemi Covid-19 maka pengurusan perpindahan sempat tertunda disamping  rekomendasi dari UNHCR juga lambat keluar padahal sangat diperlukan oleh Direktorat Imigrasi. Satu hal juga yang  menjadi kendala pada saat  proses pemindahannya nanti karena menghabiskan anggaran sekitar  20 Juta Rupiah, itu untuk biaya pesawat Pak Hussen dan pendampinya ke Makassar beserta biaya pengawalan 2 orang petugas Imigrasi dan  semua biaya akomodasinya PP dari Jakarta-Makassar-Jakarta ditanggung pihak Bapak Iman Hussen. Selama ini proses pembebasan beliau dengan dengan biaya kami secara sukarela dari Jakarta-Makassar, mudah-mudahan  dalam Bulan Maret 2021 ini Pak Iman Hussen sudah bisah dibawa ke Makassar, kalau ada pihak lain yang mau membantu secara sukarela untuk kemanusiaan bisa menghubungi kami di No Wa : 082310526762  demikian Andi Amien menutup pembicaraan. 

 

Tidak ada komentar