Beranda
Berita Nasional
Budaya
Kegiatan Pemerintahan
komunikasi
Pekanbaru
pembangunan
Riau
Menelusuri Jejak Zapin: Akulturasi Nilai Keislaman dan Budaya Melayu Riau


Teropongtimeindonesia-Pekanbaru
 - Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Tari Zapin tetap berdiri sebagai satu diantara penanda kuat jati diri Melayu. Pada setiap geraknya, tersimpan jejak sejarah panjang yang bukan hanya berbicara tentang seni, tetapi juga tentang perjalanan spiritual dan budaya masyarakat Nusantara.

Seni zapin pada awalnya tumbuh di lingkungan kerajaan Siak, sebagai hasil interaksi antara elit-elit istana dengan orang Arab yang datang ke kerajaan. Sehingga, tarian ini menyebar ke luar istana, menjadi seni popular di tengah-tengah kehidupan warga Melayu Riau.

Dewan Pimpinan Harian LAM Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, mengatakan bahwa keberadaan tari zapin tidak bisa dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di nusantara. Menurutnya, zapin hadir seiring masuknya para rombongan dari negeri Arab ke kawasan nusantara berabad-abad silam.

“Tari zapin ini keberadaannya tidak terpisahkan dari sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Karena datangnya itu melalui orang-orang dari negeri Arab ke kawasan kita,” ujarnya di Pekanbaru, Jumat (09/01/2026).

Datuk TIJ menjelaskan dari proses itulah zapin kemudian berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Melayu. Seiring waktu, zapin tidak berhenti sebagai warisan, justru mengalami proses akulturasi yang begitu alami.

Dengan begitu, unsur budaya Arab berpadu terhadap tradisi lokal Melayu. Melahirkan sebuah ekspresi seni yang khas dan sarat makna.

“Mengenai sejarah, kuat adanya pengaruh budaya Arab yang kemudian berakulturasi dengan budaya Melayu. Hasilnya itu, kreativitas yang menyatu dengan nilai Islam dan kearifan lokal Melayu,” jelas Datuk Seri Taufik Ikram Jamil.

Sementara itu, Ketua Umum MKA LAM Riau, Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf, melihat zapin sebagai lebih dari sekadar pertunjukan seni. Menurutnya, ini dapat menjadi representasi identitas budaya Melayu yang kaya dan terus berkembang mengikuti zaman.

“Tari zapin ini tak hanya sekadar sebuah pertunjukan seni, melainkan representasi identitas budaya Melayu yang kaya dan beragam,” kata Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf.

Diungkapkan, zapin mencerminkan watak orang Melayu yang sesungguhnya. Gerakan Zapin yang lembut, mengalir seperti ombak di lautan, berpadu dengan hentakan kaki yang dinamis, menjadi gambaran karakter masyarakat Melayu.

Dari sinilah zapin tumbuh bukan hanya sebagai tarian, tetapi sebagai simbol peradaban. Setiap hentakan kaki dan ayunan tangan menjadi saksi bagaimana budaya dapat bersenyawa tanpa kehilangan jati diri.

"Sifat orang melayu itu halus dalam sikap, namun tegas postif dalam prinsip. Itulah tanda keseimbangan antara kelembutan dan keteguhan," ungkapnya.

Diterangkan, dalam setiap pertunjukan, zapin seakan mengajak penonton menyelami nilai-nilai hidup orang Melayu seperti kesantunan, kebersamaan, serta keteguhan memegang adat dan agama. Nilai-nilai itu diwariskan tidak melalui ceramah panjang, melainkan lewat bahasa tubuh dan irama musik.

Datuk Seri Raja Marjohan menambahkan tarian ini sebagai ruang belajar yang hidup. Para penonton dapat mengetahui tentang budaya, sejarah, dan tradisi yang dikemas dalam bentuk hiburan yang sehat.

“Zapin punya peran edukatif untuk setiap generasi. Dengan menanamkan nilai budaya, sejarah, tradisi, serta memberikan hiburan yang sehat dan inspiratif,” terangnya.

Dituturkan, disitulah kekuatan zapin sebagai media pendidikan nonformal yang efektif. Sebab, dalam tantangan zaman yang kerap menggerus nilai-nilai lokal, zapin justru tampil sebagai pengingat akan pentingnya menjaga akar budaya. 

Karena itulah, upaya pelestarian zapin tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Datuk Seri Marjohan berharap zapin dapat dihidupkan di ruang-ruang publik, sekolah, sanggar seni, hingga panggung pariwisata, agar denyutnya tetap terasa di tengah masyarakat.

"Menjaga zapin berarti menjaga marwah budaya Melayu itu sendiri. Sebab di balik setiap irama gambus dan gerakan penari, tersimpan pesan bahwa identitas tidak sekadar diwarisi tetapi harus terus dirawat, dipahami, dan dibanggakan dari generasi ke generasi," harapnya.

Sebagai informasi, kata zapin berarti langkah kaki, yang merujuk pada istilah bahasa Arab zafin (langkah, melangkah), zaf (alat petik berdawai 12), dan al-zafn (mengambil langkah atau mengangkat satu kaki). Tarian Zapin semula hanya ditarikan oleh dua lelaki secara berpasangan. Seiring perkembangan zaman, menjadi tari yang ditampilkan baik laki-laki maupun perempuan.


Tidak ada komentar